Aliansi Peduli Tata Ruang Beraksi di DPRD DIY

DSC_0641Jogja, dprd-diy.go.id,para PKL (Pedagang Kaki Lima) Gondomanan, warga kampung Sosrokusuman, paguyuban PKL “Jogja Sejahtera”, aktivis Tata Ruang Sleman, Mahasiswa ANBTI (Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika, Gusdurian, dan para pemerhati tata ruang beraksi di depan gedung DPRD DIY pada Senin (29/02/2016). Sejumlah tuntutan dikemukakan di hadapan ketua DPRD DIY, Yoeke Indra Agunga Laksana.

Tuntutan tersebut berisi Pertama, agar pemerintah DIY  “Tanggap Darurat Tata Ruang” di dasarkan penggunaan idiologi atau perspektif tata ruang. Kedua, penggunaan falsafah petuah Sri Sultan Hamengku Buwono IX yaitu “Sithik Ending” keseimbangan dalam fungsi dan kepemilikan ruang bagi semua kawula. Ketiga, tegas pelarangan alih fungsi, baik fungsi lahan maupun peruntukan perizinan. Ke empat, pengadaan taman minimal 10 % dari luas pembangunan. Kelima, penghentian sementara IMB (Izin Mendirikan Bangunan) jika terdapat bangunan cagar budaya. Ke enam, memperpanjang masa berlaku moratorium untuk pengendalian ijin hotel baru sampai adanya regulasi yang mengatur pemberlakuan 10% kawasan taman dari luas bangunan. Ketujuh, membeli tanah-tanah yang mangkrak bertahun-tahun khususnya Kota untuk dijadikan taman kota serta ruang parkir bawah tanah (basement), dan terakhir, membuat regulasi (peraturan Bupati/Walikota) tentang sosialisasi terhadap perubahan atau transformasi tata ruang, meliputi AMDAL (Analisis Dampak Lingkungan), UPL dan UKL (Upaya Pemantauan Lingkungan dan Upaya Pengelolaan Lingkungan).

Menanggapi aksi dan tuntutan-tuntan tersebut, Yoeke Indra Agung Laksana bersyukur atas kepedulian yang tiada batas dari masyarakat terhadap DIY. Yoeke sapaan akrab Yoeke Indra Agung Laksana berterimakasih dan berharap masyaarakat dapat terlibat dan mengawal terbentuknya Perda Istimewa Tata Ruang yang memuat konsep hablunminallah dan hablunminannas. Artinya konsep yang diusung DIY didasarkan pada hubungan ketuhanan dan kemanusiaan.

Aksi dilanjutkan teater “Manusia Semen” yakni manusia yang dibungkus dollar dan dilapisi semen. Henri Cahyo koordinator aksi menjelaskan teater tersebut sebagai lambang DIY telah banyak dibangunan apartemen, mall dan hotel-hotel. “Jangan-jangan tidak hanya tanahnya yang disemen, tapi manusianya.” Ungkapnya mengkritik.

Tidak hanya cukup menampilkan “Manusia Semen” melainkan memandikan “Manusia Semen” dengan air kembang. Henri Cahyo menuturkan pemandian air kembang sebagai simbol pertobatan. Ia berharap terdapat keseimbangan antara pembangunan dengan kawasan hijau atau penyediaan taman.

Sebagai bentuk dukungan, Yoeke turut serta dalam aksi pemandian “Manusia Semen.” Dua kali air kembang diguyurkan. Instrumen musik dan puisi disenandungkan oleh rekan aksi pada saat prosesi pemandian. Suasana tampak khidmat, tanpa ada kerusuhan. (S)

DSC_0681DSC_0647DSC_0561

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*