ARMP DIY Berunjuk Rasa di DPRD DIY

22222222222222222222222222222222222222222222222222222 (2) (320x213)Puluhan orang yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Menolak Penggusuran (ARMP) DIY menggelar aksi di  Gedung DPRD DIY, Selasa (24/09). Mereka membawa baliho besar bergambar foto Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Pada baliho itu tertulis “Penak zamanku to? Mbiyen lemah SG / PAG wis tak bagi nganggo perda no. 3  Tahun 1984 kok saiki arep dirampas! Ojo Gelem Yoh. Watin, Koordinator aksi menyebutkan selama ini warga yang menempati tanah negara dibayang – bayangi ancaman penggusuran. Alasannya, warga yang menempati SG/ PG akan didata ulang sebagai implementasi UUK. “Penyebutan SG atau PAG merupakan tanah di DIY berdasarkan rijksblad 1918 zaman kolonial Belanda. Ini yang membuat kami resah,” katanya. Ia memberikan contoh sejumlah kasus pertanahan di DIY mencuat tanpa ada keberpihakan kepada rakyat kecil. Misalnya di Kulonprogo warga petani setempat terancam digusur. Lalu, di Suryowijayan warga sudah mendapat surat kekancingan tetapi surat itu ditarik kembali. “Kami warga pesisir sangat gelisah, ada rencana penggusuran karena akan dibangun hotel – hotel bertaraf internasional,” tambahnya. Menurut dia, Sri Sultan HB IX dan Sri Paku Alam VIII sudah secara tegas menghapus SG – PAG melalui Perda 3 Tahun 1984 yang merupakan pelaksaan Keputusan Presiden 33 Tahun 1984 dan Undang – Undang Pokok Agraria (UUPA). Wahyono, anggota Komisi A DPRD DIY menyebutkan tidak akan ada penggusuran tanpa dasar yang jelas. Raperdais yang sedang digodok, menanungi Lima kewenangan urusan keistimewaan salah satunya pertanahan. “Keistimewaan DIY demi kesejahteraan rakyat DIY. Bukan untuk kepentingan pribadi maupun golongan,” ujarnya. Adanya Raperdais justru kekuatan hokum dari pengguna SG dan PAG semakin jelas. Pendataan pertanahan dilakukan oleh Badan Pertanahan Nasional bukan untuk menggusur melainkan mendapatkan data yang valid. “Apabila ada oknum yang memungut biaya atau menakut – nakuti harap waspada dan laporkan kepada pihak berwajib,” pungkasnya. (hms.ed)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*