Audiensi dan Aksi Damai HTI

DSC_0109Bertepatan Hari Sumpah Pemuda muslimat Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) beraudiensi dan beraksi damai.Kumpulan mahasiswi dari berbagai Universitas tersebut menyampaikan hasil kongres mahasiswi Islam untuk peradaban (KMIP) 2015 pada tanggal 24 oktober ke DPRD DIY. Tema bertajuk penyelamatan intelektual muda dari cengkeraman neokolonialis-feminis dan penegakan khilafah di Indonesia.

Iffah Ainur Rochmah koordinator muslimat HTI menyampaikan keprihatinanya terhadap salah satu progam yang disampaikan Menteri Yohanna Yembise tentang pemberdayaan ekonomi perempuan. Narasi feminisme kesejahteraan dinilai sebagai pembohongan publik. “Segiat apapun perempuan bekerja, yang dia dapatkan hanyalah ramah ekonomi, sementara neokolonialisme melalui kapitalisme global merampok besar-besaran negeri ini.” Katanya.

Ketika perempuan disibukkan dengan aktivitas publik seperti bekerja, perempuan menjadi lebih bangga. Akibatnya perempuan kehilangan Peran muliya sebagai seorang ibu pendidik generasi al umm wa rabbatul bait. Iffah menyebutkan meningkatnya kasus perceraian adalah dampak akibat kemandirian ekonomi perempuan.

“Kehancuran perempuan dan generasi feminisme telah nyata.” Tutur Iffah. Sesungguhnya pemerintah Barat telah menggunakan hak-hak perempuan  dan idealisme feminis untuk mengejar dan memperpanjang kepentingan penjajahan mereka di kawasan dunia Islam.

Selanjutnya Iffah menuturkan bahwa derajat perempuan dalam pandangan Islam tidak dilihat seberapa besar kiprah perempuan di ranah publik. “Kemuliaan perempuan tercermin dari tingkah laku yang sesuai syariat.” Tambah Iffah.

Karenanya Iffah mengaku keindahan Islam hanya bisa dirasakan dan diterapkan dengan menggunakan sistem bernama Khilafah Islamiyah. Ibarat payung, khilafah memiliki seperangkat sistem yang mampu melindungi dan mensejahterakan perempuan.

Dharma Setiawan mengaku senang atas kehadiran dan ketanggapan muslimat HTI dalam mencermati isu-isu aktual. Kekerasan yang terjadi di DIY tidak lepas dari rendahnya penerapan dan pemahaman agama. “ Fenomena tersebut tidak akan terjadi jika ajaran agama dipahami dan diterapkan.” Tutur dharma.

Adapun Eko Suwanto yang juga turut hadir menerima audiensi mengungkapkan pentingnya peran perempuan dalam keluarga. Eko sapaan akrab Eko Suwanto mengutip istilah jawa tentang perempuan soko guru peradaban. Namun perlu dicermati juga ketika hanya laki-laki saja yang bekerja, barangkali produktifitas menurun.

“Kita mendorong agar tidak terjebak dengan feminisme Barat.” Ungkap Eko. Neokolonialisme dan kapitalisme adalah musuh yang harus dilawan. Perlawanan ini dapat dilaksanakan jika antar warganegara Indonesia bersatu tanpa melihat agama, suku, bahasa dan ras. “ Kita punya misi sama melawan neokolonialisme dan kapitalisme, ayo diperangi dengan cara apa sesuai kemampuan masing-masing.” Tambah eko. (S)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*