Bangka Belitung Kagumi Tata Tertib DPRD DIY

DSC_0113Tahun baru semangat baru. Hal tersebut tepat untuk menggambarkan semangat Panitia Khusus (Pansus) Bahan Acara (BA) 35 2015 DPRD Bangka Belitung. Bersama rombongan, Amri Cahyadi menggali informasi ke DPRD DIY tentang tata tertib. Amri Cahyadi mengungkapkan keinginannya berkunjung dan mempelajari tata tertib DIY. “DIY tata tertibnya sangat komprehensif.” Ungkap Amri Cahyadi, Wakil Ketua DPRD Bangka Belitung. Amri Cahyadi mengakui kekagumannya terhadap tata tertib DPRD DIY,didapatkannya dari internet. “Tapi kalau sekedar membaca berasa kurang.” Katanya. Karenanya ia bersyukur pada kamis (7/01/2016) ia dan segenap rombongan dapat berdiskusi langsung sekaligus mendapatkan gambaran tentang tata tertib.

Kunjungan tersebut disambut hangat oleh Arif Noor Hartanto, Wakil Ketua DPRD DIY. “Kunjungan ini sebagai ajang silahturahim kebangsaan.” Kata Inung sapaan Akrab Arif Noor Hartanto. Tak ingin kehilangan momen berharga, Amri Cahyadi sebagai pimpinan rombongan mengajukan beberapa pertanyaan. Di antaranya, terkait rumusan kerja, penempatan komisi, dan masa jabatan AKD (Alat Kelengkapan Dewan).

Dijelaskan bahwa DPRD DIY memberlakukan lima hari kerja setiap minggunya yakni senin-jum’at. “Sabtu minggu libur, namun dua hari tersebut dapat digunakan untuk perjalanan kunjungan. Itupun hanya yang bersifat undangan, selainnya tidak bisa.” Tutur Inung. Misal, senin kunjungan ke Jakarta minggu diperbolehkan melakukan perjalanan.

Adapun penempatan komisi, DPRD DIY memiliki empat komisi. Komisi A 10 anggota, komisi B 12 anggota, komisi C 15 anggota, dan komisi D 14 anggota. “Setiap komisi memiliki staf ahli, dan kedepannya akan mendapatkan tambahan staf ahli.” Selain komisi, ada juga fraksi. “DPRD DIY memiliki tujuh fraksi dengan dua staf ahli di masing-masing fraksi.” Jelas Inung. Selanjutnya ia menjelaskan adanya satu fraksi yang memiliki empat staf ahli, yaitu PDIP. Lebih banyaknya staf ahli di PDIP karena PDIP memiliki anggota terbanyak dibandingkan fraksi lain.

“Nomenklatur tentang staf ahli juga sudah dibentuk. “Tapi di SHBJ belum.” Kata Inung menambahkan.

Masih belum puas dengan penjabaran Inung, Aryanto Ketua Pansus menelisik lebih dalam untuk mendapatkan informasi. “Bagaimana sosialisasi Perda yang telah dihasilkan?” Tanyanya pada Inung. “Pembentukan Perda disosialisasikan sejak sebelum pembentukan dan sesudahnya.” DPRD DIY biasanya mengajak masyarakat untuk turut memberikan aspirasinya dalam pembentukan Perda. Istilah tersebut biasa dikenal sebagai public hearing.

Ketika Perda telah terbentuk dan disahkan, Inung menuturkan perihal pentingnya sosialisasi ke masyarakat. Harapannya agar Perda dapat dipahami dan diterapkan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. “Sosialisasi dilakukan dengan berbagai cara.” Jelas Inung. Sosialisasi tersebut baik melalui media cetak, website, majalah mimbar legislatif, dialog interaktik di TV lokal DIY, dan blocking time. Sosialisasi yang dilakukan dewan hanya yang berlaku pada atas inisiatif legislatif. Jika inisiatif dilakukan eksekutif, maka sosialisasipun dilakukan oleh eksekutif.

Meskipun hampir dua jam diskusi berlangsung, namun masih dirasa Amri Cahyadi belum cukup. Inung menawarkan kepada rombongan untuk kembali hadir di lain waktu. “Atau bisa jadi kami yang akan berkunjung ke Bangka Belitung. Silahturahim kebangsaan ini harus terjaga.” Tuturnya kemudian mengakhiri diskusi. (S)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*