Budaya Unik Masyarakat Trunyan

Bali dengan keindahan pariwisata serta kekhasan budayanya menjadi daya tarik tersendiri untuk dijadikan reverensi pengembangan destinasi pariwisata DIY. Salah satunya, kuburan Terunyan yang terletak di pinggir Danau Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.

Keunikan tradisi masyarakat Terunyan yaitu dapat dilihat dari penghormatannya terhadap orang yang sudah meninggal. Hal tersebut menjadi alasan dipilihnya Bali sebagai studi komparasi destinasi pariwisata oleh Drajad Ruswandono, Sekretaris DPRD DIY dalam Pers Tour pada Rabu (26/1/2016).

I Wayan Sudira, seorang gaet menjelaskan masyarakat Terunyan memiliki tradisi yang berbeda dalam menghadapi orang yang meninggal. Umumnya, di daerah Bali, orang yang meninggal dikubur atau dibakar (ngaben). Namun, sangat berbeda halnya dengan penerus darah keturunan Bali Aga di Desa Trunyan. Orang yang meninggal bukan dimakamkan atau dibakar, melainkan dibiarkan hingga membusuk di permukaan tanah dangkal berbentuk cekungan panjang.

Adapun posisi mayat diletakan sejajar dengan mayat lainnya. Kain khas Bali dijadikan pembungkus sekujur anggota badan mayat, kecuali muka. “Ancak Saji” anyaman bambu segitiga sama kaki dijadikan penutup sebagai perlindungan mayat dari binatang buas.

Saat wartawan Unit DPRD DIY  berkunjung, keadaan di sekitar kuburan tampak kotor. Selain itu, terdapat kepingan uang receh, dan alat-alat makan, dan alat-alat mandi.  I Wayan Sudira menjelaskan, “Dulunya pernah dibersihkan, agar wisatawan nyaman saat berkunjung. Namun, ada yang tidak setuju, sehingga terjadi pertengkaran.” Ungkapnya.

Di samping kuburan Trunyan ada pohon besar. “Ini satu-satunya pohon, dan tidak ada di tempat lain” jelas I Wayan Sudira. Masyarakat percaya, bahwa pohon tersebutlah yang dapat menetralisir bau busuk mayat. “Pohon ini disakralkan. Ranting yang jatuh pun tidak boleh diambil sembarangan, kecuali oleh orang yang disucikan,” ungkapnya.

“Tidak semua mayat dikuburkan di sini.” Ungkap I Wayan Sudira. Kuburan ini hanya diperuntukkan orang yang meninggal secara wajar. Adapun bayi, orang cacat dan yang meninggalnya kecelakaan di tempatkan di kuburan yang berbeda.

Di tempat ini, wisatawan diperbolehkan berfoto. Beberapa wartawan pun berfoto di sekitar kuburan, atau di sekitar tempat yang digunakan untuk meletakkan tengkorak. Tidak ada suasana yang mencekam atau menakutkan. Bahkan, beberapa di antara pengunjung berfoto dengan membawa tengkorak. (S)

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*