Cegah Anak Menjadi LGBT

logo pemda diyJogja, dprd-diy.go.id – Maraknya kasus LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) menjadi perhatian serius KPP (Kaukus Perempuan Parlemen) se- DIY.ketua KPP DIY, Rany Widayanti mengemukakan acara seminar LGBT merupakan upaya pencegahan anak menjadi LGBT. Politikus perempuan dari Fraksi Golkar tersebut khwatir akan penyimpangan perilaku seksual yang kini dianggap sebagian masyarakat sebagai perilaku normal.
Atas nama HAM (Hak Asasi Manusia) pelaku LGBT berteriak untuk diakui di masyarakat dan negara. Mereka berdalih, penyimpangan yang dilakukan LGBT tidak merugikan orang lain dan dianggap sebagai keberagamaan orientasi seksual. “Gerakan pro LGBT memandnag orang-orang dengan orientasi seksual menyimpang termasuk kaum minoritas yang mengalami penindasan dari masyarakat terutama kaum agamawan.” Ungkapnya.
Rany memandang LGBT merupakan pelaku sekaligus korban yang keduanya perlu mendapatkan perhatian yang tepat agar mereka kembali normal. “Jika pun itu tidak mungkin setidaknya mereka tidak akan menjadi ancaman sosial yang membahayakan.” Tambahnya.
Rany berharap adanya seminar LGBT dapat meningkatkan pemahaman kita tentang ancaman LGBT, strategi pencegahan dan penanganannya, dan utamanya menyelamatkan generasi dengan mencegah anak menjadi LGBT. Karenanya, tiga pakar dihadirkan yakni dari Psikolog, Psikoterapis Dr. Indria Laksmi Gamayanti Department of Religious Studies, Faculty of Theology, Syafa’atun Almirzanah dan Departemen Psikiatri FK UGM / RSUP Dr Sardjito, Bambang Hastha Yoga untuk memberikan pemaparan terkait LGBT secara psikologi, pandangan agama, dan ilmu kedokteran.
Berbagai respon disampaiakan oleh peserta kepada ketiga narasumber tersebut. Sebagaimana yang dikemukakan Amin KPP dari Kota Yogyakarta. Aktivis politis berambut pendek tersebut menceritakan teman saudaranya yang lesbi yang menikah di luar dan tinggal di luar negeri. Sepasang kekasih sesama jenis tersebut diakui amin saling mencintai dan merasa sama-sama menemukan kenyamanan dengan hubungan yang telah dijalaninya. Secara teori pasangan kekasih tersebut tidak sesuai teori. Amin juga mengakui di Indonesia belum memiliki ketegasan regulasi dalam menyikapi hal tersebut. “Lantas bagaimana kita menyikapinya?”
Gamayanti mengakui kasus yang diungkapkan Amin tersebut sangat menarik. Ia meminta agar kasus tersebut dilihat secara cermat secara biologis, psikologis, sosial, kultural, dan spiritual. Gamayanti menurturkan menikah yang dilakukan pasangan sejenis tersebut mungkin menjadi solusi sementara. “Tapi apakah secara psikologi keduanya menemukan kenyamanan? Ataukah kenyamanan yang diungkapkan hanya sebagai mekanisme untuk pertahanan diri saja?”
Gamayanti memandang bahwasanya kodrat manusia diciptakan sebagai laki-laki dan perempuan. Bahkan dalam adat jawa, telah dibedakan dengan berbagai sebutan seperti mas, mbak, bapak, dan ibu. Jika terdapat seseorang yang tidak jelas keduanya, maka harus disembuhkan.
Hal tersebut dibenarkan Syafa’atun Almirzanah. Kasus pelaku LGBT adalah penyakit yang harus disembuhkan bukan dibiarkan dan dilindungi. “Yang perlu dibenci adalah LGBTnya, bukan pelaku LGBT.” Tandasnya. Ia berharap, masyarakat dapat lebih paham bahwa pelaku LGBT tidak untuk dibenci dan didiskriminasi, melainkan direngkuh, dinasehati bahwa terdapat penyakit dalam dirinya yang harus disembuhkan.
Adapun Bambang Hastha Yoga menuturkan pencegahan terhadap LGBT dapat dilakukan melalui penciptaan lingkungan rumah yang sehat, memberikan informasi yang akurat terkait dampak hubungan sesama sejenis, dan membangun konsep diri yang sehat. (S)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*