CEGAH KEKERASAN SEKSUAL PADA ANAK

DSC_0124Menjelang Kartini, kaukus perempuan parlemen DIY menggelar seminar kekerasan seksual pada anak-anak, dampak dan pencegahannya. Tiga narasumber dihadirkan pada minggu (19/04). Diantaranya Andrie Irawan Direktur Sahabat Anak, Perempuan & Keluarga, Ifa Aryani dari Lembaga Studi dan Pengembangan Perempuan dan Anak, dan Waty Marliya dari BPPM (Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat).

Pada Pasal 26B ayat 2 bahwasanya Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Namun implementasi dari UU tersebut belum menyentuh berbagai elemen masyarakat hingga tingkat bawah. Ifa Aryani mencontohkan kasus pencabulan yang dilakukan pedagang es keliling kepada balita di Bantul. Kasus serupa terjadi di daerah Sleman yakni Guru SD sodomi siswa laki-laki dan seseorang kakak (mahasiswa) mencabuli adiknya yang masih TK.

Beberapa dampak turut disinggung Ifa Aryani akibat kekerasan seksual. Selain menjadikan anak trauma, depresi, stres, ketidakwajaran sikap seksual di usia dini, menyukai sesama jenis, bahkan menjadi pelaku kekerasan seksual kepada orang lain.

“Perlindungan terhadap korban kekerasan dapat dilakukan melalui upaya penanganan yang cepat.” Kata Andrie Irawan.

Penanganan tersebut dapat dilakukan dengan segera melakukan pengobatan atau rehabilitasi fisik, psikis, sosial, serta pencegahan penyakit dan gangguan kesehatan. Selain itu, diperlukan Pendampingan psikososial pengobatan dan Pemberian perlindungan serta pendampingan pada setiap proses peradilan. Bagi keluarga tidak mampu, Andre Irawan mengungkapkan pentingnya adanya bantuan sosial bagi korban.

Berdasarkan Pergub DIY  No. 6 tahun 2012 telahdibentuk pusat pelayanan terpadu perempuan dan anak (P2TP2A) Rekso Dyah Utami.

Waty Marliya menyebutkan lima bentuk pelayanan. Pertama mensosialisasikan berbagai informasi dan peraturan yang berguna bagi peningkatan pemahaman, solidaritas dan kemampuan mencegah terjadinya kekerasan perempuan dan anak. Kedua, pelayanan pos pengaduan, konsultasi dan pendampingan bagi korban kekerasan perempuan dan anak selama 24 jam. Ketiga konseling bidang medis, psikologis, hukum, sosial, dan kerukunan rumah tangga. Ke empat, rujukan, Ke lima semi shelter, shelter, dan paska shelter.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*