DIY Gagas Smart City

DSC_0046Jogja, dprd-diy.go.id – Selasa, (19/07/2016)  DPRD DIY menggelar forum diskusi, dimoderatori oleh Sutata, anggota Komisi C DPRD DIY yang menghadirkan nara sumber: Prof. Ir Achmad Djunaedi, MUP.Ph, D, Dr. Agus Tavip , dan Dr. Lukito Edy Nugroho membahas tentang smart city. Prof. Ir Achmad Djunaedi, MUP.Ph, D dari Departemen Teknik Arsitektur dan Perencanaan FT UGM Yogyakarta menyatakan bahwa smart city (kota cerdas) sedang menjadi trending topic, dan juga sudah menjadi agenda Bappenas di masa depan.

Smart city adalah kota, kabupaten dan provinsi yang dapat mengelola sumber daya manusia dan alam, dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, sehingga warganya bisa hidup aman, nyaman, dan berkelanjutan.” Ungkapnya.  Terdapat tujuh konsep yang diusulkan Prof. Ir Achmad Djunaedi, MUP.Ph, D dalam menggagas smart city, yakni a smart economy, a smart mobility, a smart environment, smart people, smart living, smart governance, and a smart disaster management.

Junaedi menyampaikan bahwa pengertian smart city menurut literatur bermacam-macam, namun yang penting, tegasnya,  smart city dapat diupayakan melalui serangkaian usaha. Definsi yang digunakan KSPPN (Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional) yaitu bahwa Smart City adalah kota yang mampu menggunakan SDM, modal sosial, dan infrastrukstur telekomunikasi modern (TIK) untuk mewujudkan  pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutn, keunggulan ekonomi yang kompetitif serta kualitas kehidupan yang tinggi dengan manajemen sumber daya yang bijaksana melalui pengembangan ekonomi yang produktif, kreatif dan inovatif berbasis TIK, tata kelola pemerintahan kota dan pelayanan publik berbasis TIK, kota yang memiliki pelayanan prasarana sarana hunian, kesehatan, pendidikan dan keamanan berbasis TIK dan pembangnan masyarakat cerdas yang inovatif, kreatif dan produktif.

“Kota Cerdas adalah kota yang sistem manajemen kotanya mampu memberitahu bahwa sedang timbul suatu masalah perkotaan yang diberitahu oleh sensor yang dipasang di seluruh kota, bahwa akan timbul suatu masalah perkotan  yang diberitahu oleh sensor dan sistem prediksi, dan dan usulan tindakan otomatis atau tidak otomatis untuk mengatasi masalah yang diusulkan oleh sistem yang telah terpasang”, jelasnya. “Ada 10 smart city di dunia yaitu Vienna, Toronto, Paris, New York, London, Tokyo, Berlin, Copenhagen, Hongkong dan Barcelona”,’tambahnya.

Sementara itu, Dr. Lukito Edy Nugroho menyampaikan dalam makalahnya bahwa untuk menuju smart city dibutuhkan kesolidan bersama. Smart city digagas tidak hanya melibatkan pemerintah semata, tapi harus melibatkan seluruh komponen masyarkat sesuai dengan bidangnya masing-masing. Ia berharap smart city tidak sekedar ide, melainkan kedepan dapat diimplementasikan. Edy berharap kemacetan mudik dapat diantisipasi dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi secara efektif. Ia mencontohkan, adanya informasi yang up to date terkait titik-titik kemacetan, terdeteksinya jalan pintas, dan informasi lokasi pom bensin. “Setidaknya biar masyarakat dapat mencari solusi dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi.” Jelasnya.

Sedangkan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah DIY, Agus Tavip Rayanto,  menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Ia mencontohkan game Pokemon Go yang akhir-akhir ini marak digemari. Game yang menggunakan GPS untuk menemukan Pokemon tersebut dapat dicontoh pariwisata DIY. (S)

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*