Forum Diskusi Wartawan BRTPD DIY  

Sekretariat DPRD DIY mengadakan diskusi rutin bersama wartawan yang dikemas dalam Forum Diskusi Wartawan pada Jumat (14/11) lalu. Forum tersebut dilaksanakan dengan peninjauan lokasi Balai Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas (BRTPD) DIY bertempat di Dusun Piring, Desa Srihardono, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul.

Kepala BRTPD, Pramujaya Hadi Priyanto bertindak sebagai narasumber dalam forum tersebut. Dirinya mengakui bahwa kinerja BRTPD DIY masih belum dapat berjalan secara maksimal. Pasalnya, penanganan disabilitas belum didukung oleh sarana yang memadai. Penyandang disabilitas yang berada di BRTPD berjumlah 168 orang dengan memiliki 26 Pegawai Negeri Sipil tentu tidak sebanding. Oleh karena itu, BRTPD yang memiliki ligkungan yang cukup luas mempekerjakan 71 tenaga honorer.

BRTPD merupakan satu-satunya UPTD yang mempunyai rehabilitasi medik. Balai rehabilitasi ini telah memiliki program hydrotherapy yang sangat menarik perhatian jika dikembangkan dengan sungguh-sungguh. Keberadaannya masih jarang ditemui di wilayah DIY. Hydrotherapy menjadi prospek yang bagus untuk menambah PAD DIY. Namun, sayangnya BRTPD yang telah memiliki 2 kolam untuk hydrotherapy belum memiliki alat yang diperlukan sehingga belum dapat dimanfaatkan.

Pada 2009 lalu, balai ini khusus difungsikan untuk penyandang disabilitas untuk korban gempa yang memiliki cacat tubuh, namun pada 2011 terjadi penggabungan dengan panti sosial bina mitra sehingga BRTPD juga difungsikan untuk penyandang tuna rungu, tuna wicara, tuna grahita, dan lain sebagainya.

Dalam acara yang dihadiri oleh Agus Sumaryanto, anggota DPRD DIY dari fraksi Golkar dan Sekretariat DPRD DIY Ir. Drajad Ruswandono, MT Kepala BRTPD bercerita bahwa pihaknya pernah disangka menculik ketika menjemput seorang difabel menggunakan ambulans berplat merah. “Inilah ketidak tahuan masyarakat tentang BRTPD. Masyarakat awam sering mengira bahwa jika dimasukkan BRTPD nantinya akan dijadikan seorang pengemis. Padahal disini nantinya akan dilakukan pembinaan agar mereka dapat mandiri”, tutur Kepala BRTPD dalam forum.

Bagi penyandang disabilitas yang diberi pembekalan di BRTPD tidak hanya dipulangkan dengan begitu saja. Tetapi penyandang disabilitas nantinya akan diberikan peralatan yang dapat dimanafaatkan untuk meningkatkan kualitas SDM. “Sekarang lebih dari separuh penyandang disabilitas sedang PKL”, terang Jaya. BRTPD juga akan membuka kelas terampil secepatnya agar bagi penyandang disabilitas yang belum mampu menghasilkan karya selama 1 tahun dibina dapat melanjutkan sampai dapat berkarya. Pihaknya menegaskan bahwa BRTPD mengajarkan penyandang difabel untuk bisa hidup mandiri dan produktif layaknya masyarakat pada umumnya.

Acara kemudian diakhiri dengan peninjauan langsung ke kelas-kelas pelatihan para penyandang disabilitas, diantaranya kelas informatika, menjahit, pijat, dll.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*