Gelandangan dan Pengemis 70% dari Luar DIY

DSC_0110 (420x279)Disiarkan langsung dari Studio 1 TVRI Yogyakarta dalam acara Dialog Interaktif pada Rabu (5/02) lalu dengan narasumber H. Nandar Winoro, ST, MSI selaku Ketua Pansus BA 3 Tahun 2014 tentang penanganan gelandangan dan pengemis di wilayah DIY, Rofah Makin, PhD penulis naskah akademik berasal dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Eko Prasetyo, SH dari Dinas Sosial DIY membahas mengenai penanganan gelandangan dan pengemis di wilayah DIY.

Gelandangan dan pengemis menjadi masalah kompleks yang terjadi di kota-kota besar salah satunya wilayah DIY. Pengemis dan gelandangan yang ada di DIY tidak sepenuhnya berasal dari wilayah DIY. Sesuai dengan responden yang ditemui, sebanyak 70% gelandangan dan pengemis berasal dari luar DIY antara lain wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Gelandangan dan pengemis yang berasal dari daerah lain untuk penangannya akan dikembalikan ke daerah masing-masing, sedangkan untuk gelandangan dan pengemis yang berasal dari dalam wilayah DIY akan dibina supaya dapat hidup mandiri. “Ada kalanya penanganan ini gagal dilakukan karena pengemis dan gelandangan ini merasa lebih nyaman hidup di jalanan dengan penghasilan lebih daripada mereka bekerja pada umumnya”, ungkap Eko Prasetyo, SH.

Tidak sedikit terjadi, gelandangan dan pengemis yang berasal luar daerah DIY yang sudah dikembalikan ke tempat asal datang kembali ke DIY. Jalanan DIY dapat dikatakan sebagai surganya para gelandangan dan pengemis, hal ini disebabkan karena pemerintah belum begitu ketat mengatur keberadaan gelandangan dan pengemis di DIY. Dengan adanya raperda mengenai gelandangan dan pengemis ini, diharapkan jalanan DIY bebas dari gelandangan dan pengemis yang berkeliaran dan tercipta Yogyakarta yang nyaman. (hms.efm)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*