Gerindra Tanyakan Ketidakmaksimalan Serapan APBD

 

Rapat paripurna ke-47 masa sidang ke-3 terkait pemandangan umum fraksi mengenai perubahan anggaran pendapatan dan belanja daerah digelar pada selasa (20/09/2016). Fraksi Partai Gerindra memilih Heri Sumardiyanto untuk menyampaikan gagasan atau pemandangan umum yang dihadiri lebih dari 30 anggota dewan serta SKPD.

Heri Sumardiyanta politikus asal daerah pemilihan (Dapil) Kulonprogo menyatakan terdapat permasalahan yang sama mengenai anggaran yang kemudian diasumsikan dan memengarui perubahan kebijakan anggaran. Menyebut Mewakili Fraksi Partai Gerindra Heri Sumardiyanta menyatakan proses perubahan yang disajikan oleh pemerintah seharusnya tidak mengulang banyak persoalan yang terjadi pada tahun-tahun anggaran sebelumnya.

Dalam konteks perubahan anggaran tahun 2016, atau KUPA 2016 performance anggaran yang disajikan oleh pemerintah daerah DI. Yogyakarta Kondisi umum Belanja Daerah Tahun Anggaran 2016 semula direncanakan sebesar Rp.4.189.992.196.186,80 turun sebesar Rp.217.354.097.343,20 atau turun sebesar 5,19% sehingga menjadi sebesar Rp.3.972.638.098.843 yang terdiri dari:

  1. Belanja Tidak Langsung yang semula dianggarkan sebesar Rp2.070.916.316.654,80 berkurang Rp59.127.446.912,20 atau turun sebesar 2,91% menjadi 011.788.869.742,60 setelah perubahan.
  2. Belanja Langsung semula sebesar Rp2.119.075.879.532,00 berkurang sebesar Rp.158.226.650.431,00 atau turun sebesar 7,47% sehingga menjadi sebesar Rp.1.960.849.229.101,00.

Permasalahan utama Belanja Daerah tahun 2016 yang dituangkan oleh pemerintah daerah DI. Yogyakarta sebagai berikut:

  1. Kesiapan sumber daya manusia dalam menterjemahkan target kinerja dari rencana belanja dan kegiatan yang diprioritaskan.
  2. Orientasi sebagian program dan kegiatan masih jangka pendek sehingga kurang memperhatikan keberlanjutan dan dampak yang dapat ditimbulkan.
  3. Belum optimalnya koordinasi antar SKPD, antara SKPD dengan instansi sektoral maupun antara SKPD dengan SKPD Kabupaten/Kota dikaitkan dengan kewenangan masing-masing.

Dari inventarisasi persoalan tersebut, maka beberapa pertanyaan yang Fraksi Partai Gerindra munculkan sebagai berikut:

  1. Kami melihat bahwa pemerintah daerah belum optimal dalam membangun prediksi-prediksi perubahan APBD setiap tahunnya, khususnya target dan capaian atas kinerja pemerintah DI. Yogyakarta. Fraksi Gerindra melihat bahwa banyak kegiatan yang belum bisa tereleasasikan karena minimnya serapan anggaran program dan kegiatan dalam APBD 2016. Pertanyaannya, bagaimana strategi yang harus dibangun atas asumsi serapan anggaran dalam pelaksanaan anggaran bisa optimal?
  1. Fraksi Partai Gerindra melihat bahwa Belanja Langsung yang semula direncanakan sebesar Rp2,11 trilyun setelah perubahan menjadi Rp1,96 trilyun, mengalami penurunan sebesar Rp158,22 milyar atau turun sebesar 7,47%. Dalam catatan kami, penurunan tersebut terkoneksitas dalam kegiatan langsung ekonomi masyarakat luas. Pertanyaannya adalah bagaimana pemerintah DI. Yogyakarta akan mengoptimalkan belanja langsung pada pelaksanaan anggaran perubahan kedepan dan bisa meningkatkan derajat ekonomi masyarakat DI. Yogyakarta ?
  2. Salah satu faktor lain yang sering diprotes oleh masyarakat adalah minimnya anggaran langsung bagi masyarakat, khususnya pada anggaran belanja hibah dan anggaran bantuan sosial. Fraksi Partai Gerindra mencatat bahwa alokasi bantuan sosial mengalami penurunan sebesar 2 milyar rupiah atau 42,71 %. Menurut kami, anggaran hibah sosial sangat kecil dan mengalami penurunan alokasi. Meskipun kami memahami ada banyak peraturan perubahannya, Fraksi Partai Gerindra tetap menginginkan anggaran bantuan sosial tetap mendapatkan alokasi anggaran. Pertanyaannya, bagaimana komitmen pemerintah DI. Yogyakarta untuk menaikkan anggaran tersebut dan tetap bisa menjadi bagian yang dinikmati masyarakat secara langsung ?
  3. Fraksi Partai Gerindra juga melihat bahwa salah satu kurang optimalnya serapan anggaran adalah kualitas sumberdaya pemerintah daerah dalam melakukan implementasi dan distribusi program dan kegiatan. Bagaimana strategi pemerintah DI. Yogyakarta dalam membangun pola koneksitas antar kelembagaan dalam pemerintah agar implementasi dan serapan anggaran bisa optimal ?
  4. Fraksi Partai Gerindra juga melihat bahwa dalam rencana kebijakan perubahan anggaran pendapatan asli daerah belum banyak perubahan-perubahan dalam kenaikan pendapatannya. Tentu saja kami juga melihat interkoneksitas antara belanja modal yang dikeluarkan seharusnya bisa mendongkrak pendapatan asli daerah atas pengeluaran belanja modal tersebut. Bagaimana pemerintah DI. Yogyakarta bisa mengoptimalkan pendapatan asli daerah dari Perusahaan daerah, BUMD dan lainnya agar mampu menyumbang PAD lebih baik?
  5. Kami melihat angka SILPA cukup besar sekali setiap tahunnya. Jumlah Penerimaan Pembiayaan Daerah sebelum perubahan yang direncanakan sebesar Rp405,92 milyar berubah menjadi Rp364,68 milyar atau mengalami penurunan sebesar Rp. 41,24 milyar atau turun 10,16%. Angka SILPA yang cukup besar menunjukkan bahwa kinerja pemerintah dalam implementasi anggaran cukup bisa dipertanyakan karena menyisakan anggaran cukup besar tidak terserap. Pertanyaannya : bagaimana strategi pemerintah DI. Yogyakarta untuk memaksimalkan serapan anggaran setiap tahunnya agar tidak menyisakan anggaran cukup besar?
  6. Fraksi Partai Gerindra mendorong agar anggaran perubahan dalam 2016 ini bisa maksimal dan mempunyai semangat untuk pro poor, pro growth, pro job, dan pro ecologi. Kami melihat bahwa angka kemiskinan tetap bertahan atau bahkan disparitas kemiskinan makin melebar. Tentu pemerintah DI. Yogyakarta mempunyai semangat untuk menaikkan kesejahteraan masyarakat, meningkatkan daya beli masyarakat, hingga pada konteks pertumbuhan ekonomi meskipun secara nasional mengalami inflasi yang membuat tekanan ekonomi masyarakat meningkat. Pertanyaannya, bagaimana pemerintah DI. Yogyakarta menerapkan semangat nilai Pro poor, pro job, pro growth, dan pro ekologi dalam semangat perumusan anggaran perubahan KUPA 2016 untuk kesejahteraan masyarakat DI. Yogyakarta?

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*