Jogja Istimewa tetapi Pemilu-nya belum Istimewa

forum diskusi wartawanSekitar seminggu yang lalu rakyat mengikuti pesta demokrasi ialah pemilu legislatif 2014, dinamika politik yang terjadi dalam pemilu menjadi Tema dalam acara Forum Diskusi Wartawan “Dinamika Pemilu Legislatif Tahun 2014” Rabu (16/4) di Ruang Lobby lantai 1 DPRD DIY di hadiri wartawan dari berbagai media dan narasumber.

Jogja istimewa tetapi pemilunya belum istimewa karena banyaknya temuan pelanggaran pemilu baik yang terekspose media maupun dari cerita masyarakat mengenai politik uang, minim nya saksi, masalah surat suara, pemasangan atribut yang bermasalah serta temuan lainnya kata Arie Sudjito dosen FISOPOL UGM yang menjadi salah satu narasumber.

Muhammad Najib (Bawaslu) juga sebagai narasumber senada mengatakan dalam Pemilu 2014 di DIY cukup banyak pelanggaran diantaranya tertukarnya surat suara, penandaan surat suara, politik uang, alat peraga kampanye, dan sebagai. Hari H saat pemilu legislatif merupakan pelanggaran yang sangat masif terkait politik uang, Bawaslu bukan tidak melakukan apa-apa terkait politik uang ada 40 kasus aduan 9 diantaranya politik uang. Namun terdapat kendala dalam mengumpulkan bukti-bukti karena masyarakat yang mengetahui enggan melapor dan enggan menjadi saksi bisa saja khawatir mendapat tekanan dari pelaku politik uang. Hal ini merupakan pidana pemilu oleh karena itu harus memiliki bukti dan saksi yang kuat.

Walau dilangsungkan dalam suasana damai, tetapi kualitasnya tidak membaik. Ragam tindakan praktik pemilu yang demikian, jelas akan dituai lima tahun akan datang. Dampaknya bila proses output pemilu buruk akan menghasilkan input demokrasi yang akan memburuk. Resikonya adalah output caleg terpilih akan melahirkan produk atau perundangan tidak memadai seperti perda jauh dari kata berkualitas. Tandas Arie Sudjito.

Walau Pemilu legislatif sudah berlalu kita perlu mendorong transformasi masyarakat active citizen ikut mengkritisi, mengawasi penyelenggaraan pemerintah dan pelayanan publik. Menjadi pemilih yangg kritis tidak permisif, pragmatis ,tidak transaksional ini merupakan cara untuk meningkatkan demokrasi dan sistem politik di Indonesia. Jadikan pemilu legislatif pelajaran untuk pemilu presiden akan datang. (hms.as)

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*