Kami Bukan Gelandangan Dan Pengemis

Paguyuban Angklung Yogyakarta didampingi Lembaga Konsultasi Dan Bantuan Hukum (LKBH) Pandawa menuntut aksi di depan DPRD DIY pada Senin, (10/04/2017). Dwi selaku ketua paguyuban Angklung dengan tegas menyatakan bahwa komunitasnya bukanlah pengemis yang mengganggu pengguna jalan. Komunitas Angklung ialah seniman yang memanfaatkan ruang publik untuk menghibur pengguna jalan di saat lampu merah. Bahkan, ia menjelaskan kerap melakukan pertolongan pertama jika terjadi kecelakaan, dan  jika hujan deras dan banjir komunitasnya membantu membenahi saluran air yang tersumbat. Ia mewakili segenap komunitas anklung Yogyakarta mengaku tidak rela disebut sebagai gelandangan dan pengemis (Gepeng).

Sugiharto dari LKBH menuntut Perda Gepeng yang mengklasifikasikan seniman jalanan termasuk dari Perda Gepeng. Gelandangan dan pengemis diidentifikasi tidak memiliki identitas, sedangkan paguyuban angklung memiliki identitas KTP serta menggunakan baju seragam. Sugiharto menuntut supaya Gubenur DIY dan Satpol PP mencabut peringatan satu dan dua terkait pelarangan oprasi angklung di DIY. Selain itu, ia berharap angklung segera diakui keberadaannya sebagai bagian dari kebudayaan Yogyakarta.

Memandang hal tersebut, Dharma Setiawan Wakil Ketua DPRD DIY mengaku setuju jika seniman jalanan termasuk paguyuban angklung di DIY bukanlah termasuk dari gepeng. “Mereka hanya memanfaatkan ruang publik untuk menghibur.” Ucapnya. Dharma menjelaskan jika pada saat pentas akhirnya menimbulkan kerumunan orang karena tertarik untuk melihat dan menikmati sajian seni, yang salah bukan angklungnya melainkan ruang publiknya yang kurang luas.

Dharma berjanji akan membicarakan masalah angklung dengan Gusti Yudha selaku Kepala Satpol PP beserta Dinas Pariwisata , Dinas Sosial, dan Dinas Kebudayaan. Ia berharap nantinya akan mendapatkan solusi terbaik, ia sendiri merasakan terhibur dan tidak merasa terganggu jika di trotoar lampu merah seni musik angklung dimainkan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*