Kegelisahanan Pagodja Atas Wacana Diaturnya Transportasi Online

Jogja istimewa tidak hanya menyoal keramahan warga primbuminya saja. Tatanan sistem pemerintahan, kebudayaan, garis sosial, pendidikan, dan putaran perekonomiannya. Jogja miniaturnya Indonesia tidak sekedar ungkapan kosong. Berduyun-duyun mancanegara memilih Jogja sebagai tempat belajar yang nyaman. Destinasi wisata di Jogja banyak dipilih wisatawan baik dalam negeri atau pun luar negeri. Makanya tidak heran jika aktivitas jalanan Jogja seperti tak pernah berhenti.

Lalu lalang kendaraan seperti tak terjeda waktu. Berbagai alat transportasi berseliweran dari yang tradisional, konvesional bahkan online. Di sisi lain, keberadaan transportasi tersebut memudahkan masyarakat untuk mengunjungi tempat-tempat tertentu sesuai dengan tujuan pendatang ke Jogja.

Namun di sisi lain, permasalahan muncul seiring berkembangnya teknologi yang memudahkan akses transportasi. Transportasi online misalnya seperti Go-Jek. Keberadaan Go-Jek di Jogja sudah mencapai ribuan. Semakin banyaknya Go-Jek karena masyarakat merasa lebih mudah dalam pengaksesan, tarif lebih murah dan lebih dapat menghindari macet. Namun hal tersebut menimbulkan kecemburuan sosial. Jasa Transportasi konvesional merasa dirugikan karena kehilangan pelanggan. Kecemburuan sosial tersebut berujung pada gesekan-gesekan, percekcokan dan bahkan pertengkaran.

Merespon hal tersebut, gubenur berinisiatif mengatur transportasi berbasis online. Namun wacana tersebut menjadikan jasa transportasi online seperti Go-Jek merasa khawatir jika tidak diperbolehkan beroprasi. Paguyuban Driver Go-Jek (Pagodja) mendatangi DPRD DIY pada Senin (15/5/2017). Kedatangan Pagodja disambut hangat wakil ketua DPRD DIY, Arif Noor Hartanto.

Di hadapan politisi Fraksi PAN tersebut tiga tuntutan disampaikan. Pagodja berharap dan mendesak supaya pemerintah membuat Peraturan Gubenur (Pergub) yang melegalkan dan mengatur keberadaan transportasi berbasis online roda dua, karena keberadaan transportasi online dipandang sangat dibutuhkan. Terbukti dalam satu tahun perekrutan driver mencapai 6000. Selain itu, transportasiojek online dipandang mampu memberikan kemanfaatan berbagai pihak;seperti penyerapan tenaga kerja serta membantu pemerintah dalam melayani kebutuhan masyarakat akan transportasi yang mudah, aman, nyaman, dan berdaya jangkau luas.

Pagodja juga mendesak pemerintah membuat peraturan yang mengatur tentang kesesuaian tarif dasar dan tarif minimum untuk ojek online supaya dapat tercipta persaingan yang sehat di antara pelaku jasa transportasi online dan transportasi konvensional. Terakhir, Pagodja mendesak pemerintah untuk mengatur dan membatasi jumlah armada online. “Jika jumlah armada ojek online tidak di atur dan dibatasi sesuai kebutuhan akan menimbulkan permasalahan-permasalahan baru.” Jelas Sunardi juru bicara Pagodja. Sunardi mencontohkan persoalan baru tersebut yaitu kerugian sebelah pihak (mitra/driver) yang tidak memungkinkan akan dimanfaatkan perusahaan selaku pemilik aplikasi ojek online untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya tanpa berkenan melihat dampak kerugian mitra yang ditimbulkan karena perekrutan driver yang tidak terkendali.

Inung sapaan akrab Arif Noor Hartanto menanggapi tiga desakan tersebut berjanji akan menyampaikannya ke gubenur. Dalam dimensi keadilan, Inung memandang penyusunan Pergub harus memberikan keadilan kepada semua pihak. “Saya akan menyampaikan ke pak gubenur agar aspirasi ini menjadi elemen dalam proses penyusunan Pergub.” Janji Inung.

Inung juga berjanji siap meneruskan pernyataan sikap dari Pagodja ke komisi C sebagai partner Dinas Perhubungan. “Kalau saya segala sesuatu itu peribahasanya ono rembuk dirembuk, karena itu Pergub yang bakal dibuat harus menep dan menyeluruh melibatkan penyedia jasa online dan konvensional agar benar adil bagi semua pihak. Pergub ini harus bisa menyelesaikan masalah, bukan malah menimbulkan masalah baru.” Tegas Inung. (S)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.