Keresahan Karang Taruna DIY terkait Permasalahan Pemuda

karang taruna DIYJogja, dprd-diy.go.id – Karang Taruna DIY melakukan audiensi di Ruang Lobby lantai 1 Gedung DPRD provinsi DIY pada Selasa, (18/10/2016). Audiensi ini dihadiri oleh Dharma Setiawan, MBA selaku pimpinan DPRD Provinsi DIY, perwakilan dari komisi D DPRD Provinsi DIY, Karang Taruna DIY, dan juga Fisipol UGM.

Darma membuka rapat itu dengan memaparkan beberapa permasalahan pemuda yang kerap terjadi di Provinsi DIY. permasalahan-permasalahan tersebut seringkali meresahkan dan beberapa merusak fasilitas umum, seperti perkelahian para pemuda, vandalism, dan lain-lain.

Vidi selaku pimpinan Karang Taruna DIY menegaskan, “Semakin marak aksi kekerasan di jalan, hal ini banyak menimbulkan korban.” Inilah yang menjadi latar belakang keprihatinan Karang Taruna DIY. Karang Taruna DIY berharap DPRD Provinsi DIY bisa mensinergikan hal ini dengan kebijakan yang dibuat terkait penanganan kekerasan di jalan.

Perwakilan Fisipol UGM menambahkan bahwa permasalahan pemuda sangat penting. Untuk menyokong perlu dibuat kebijakan. Pemuda mempunyai banyak potensi positif seperti inovasi, partisipasi, dan banyak hal lainnya. Aspek pemuda seperti ini harus direspon dengan sungguh-sungguh. Potensi positif harus diangkat sedangkan potensi negatif perlu dikikis. “kami siap mendukung upaya ini dan siap terlibat dalam penanganan hal ini”, tandasnya.

Rifa selaku perwakilan dari Karang Taruna menyebutkan jangan sampai kekerasan hadir dalam berbagai bentuk. Ia menambahkan, “Dulu kekerasan terjadi satu lawan satu, sekarang massal, sudah pake alat tajam, ada yang pake air keras, kejut listrik, banyak tawuran, berkelompok.” Sebenarnya tawuran sudah tidak terlalu aktif, namun masih mudah untuk mengaktifkannya, banyak campur tangan alumni. Maka dari itu hal ini perlu dilacak dan dilihat faktor-faktornya seperti transisi, keluarga, dan sekolah. Endah menambahkan bahwa sebenarnya potensi negatif bisa diarahkan. Pemuda sebenarnya memiliki kebatasan ruang dalam berkreasi. Maka dari itu ia menyebutkan bahwa Karang Taruna memberi wadah untuk mengalokasikan segala aktivitasnya.

Karang Taruna menyebutkan bahwa pemuda itu masih dianggap sebelah mata. Beberapa desa sudah memiliki karamg tarunanya sendiri, namun mayoritas daerah menganggap pemuda tidak terlalu penting, padahal seharusnya pemuda itu didukung.

Hama perwakilan Komisi D DPRD Provinsi DIY menyebutkan bahwa komisi D mengusulkan Perda Gepeng, minuman alkohol, yang mana hal ini muncul akibat permasalahan kekerasan di jalan. Beliau setuju, “kita harus benar-benar menjaga pemuda, harus dicari tahu kenapa muncul permasalahan seperti ini.” Sedangkan Darma menilai diskusi bersama Karang Taruna Provinsi DIY ini sangat matang. (nrt)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*