Konsultasi Pansus Moda Transportasi Tradisional ke Kementerian Perhubungan RI

konsultasi pansus moda transportasi tradisional ke kementerian perhubungan riRombongan Panitia Khusus DPRD DIY yang diketuai oleh Edy Susila dan didampingi oleh Ketua DPRD DIY, Yoeke Indra Agung Laksana yang diberi tugas untuk membahas Rancangan Peraturan Daerah tentang Moda Transportasi Tradisional dalam Bahan Acara Nomor 5 Tahun 2016 diterima oleh  Pejabat dari Sub Direktorat Keselamatan Transportasi Darat Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, Senin (18/1/2016).

Dalam kesempatan tersebut Ketua Pansus, Edy Susila menyampaikan beberapa pertanyaan terkait dengan Raperda Moda Transportasi Tradisional yang selama ini belum ada pengaturannya khususnya terkait dengan pengelolaan transportasi tradisional yaitu andong dan becak yang juga menjadi icon pariwisata di Yogyakarta. Keberadaan dua moda tersebut bagi para wisatawan, baik wisatawan manca negara maupun wisatawan nusantara tidak asing lagi. Kedua moda tersebut menjadi ciri khas dari moda transportasi yang tidak dimiliki oleh kota-kota lain. Andong di Yogyakarta menurut Agus, salah seorang pejabat dari Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informasi DIY memiliki ciri yang berbeda dengan sejenis andong di kota-kota lain. Ia lebih merupakan duplikat dari kereta yang dimiliki oleh Kraton Yogyakarta. Demikian juga terkait dengan becak di Yogyakarta memiliki ciri khas yang berbeda dengan becak yang ada di kota-kota lain. Becak dan Andong selama ini mampu meningkatkan kepariwisataan di Yogyakarta dan menjadi ciri yang tidak dimiliki oleh kota-kota lain. Oleh karena itu, sebagaimana ditekankan oleh Agus bahwa penyusunan perda ini dimaksudkan bukan hanya untuk mengatur, namun lebih dari itu bahwa Raperda ini diharapkan mampu mengangkat keberadaan andong dan becak mampu meningkatkan kunjungan wisata ke Yogyakarta.

Kepala Sub Direktorat Keselamatan Transportasi menegaskan bahwa baik DPRD DIY maupun Eksekutif terkait dengan penyusunan peraturan daerah tentang moda transportasi tradisional ini menanggapi dengan gembira. Hal tersebut apabila nantinya mampu disusun pengaturannya dengan baik tentu dapat menjadi pilot project bagi kota-kota lain yang sampai saat ini juga memiliki transportasi tradisional. “Kalau Raperda itu nantinya menjadi perda yang komperhensif mengatur mengenai moda transportasi tradisional, maka ia akan menjadi pilot project untuk kota-kota lain yang memiliki kesamaan moda transportasi serupa, “ tegasnya.

Walaupun moda transportasi tradisional tidak diatur, namun khususnya di DIY hal tersebut dapat diatur tentu dengan mempertimbangkan bahwa moda transportasi tradisional, khususnya becak dan andong tersebut sebagai pengaturan yang berdasarkan pada kearifan lokal sebagaimana pengaturan moda transportasi bermesin semacam adanya terminal, tempat pembuangan kotoran dan sebagainya.

Hal yang menjadi perhatian utama terkait dengan moda transportasi tradisional adalah masalah keselamatan bagi penumpang. Hal ini juga menjadi pertanyaan Sambudi, salah satu anggota Panitia Khusus tersebut terkait dengan adanya kasus penumpang di Makasar yang meninggal karena terinjak-injak oleh kuda yang sedang birahi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*