Koprasi Sebagai Soko Guru Perekonomian DIY

DSC_0021Koprasi sebagai soko guru perekonomian DIY terlihat dari prisip kesejahteraan dan bagi hasil. Selain itu, setiap anggota berhak turut bersuara untuk kemajuan koprasi. “Berbeda dengan usaha biasa. Koprasi berbasis anggota yang memungkinkan anggota dapat terlibat langsung.” Kata dumairi, Direktur Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM.

Meskipun demikian, koprasi di DIY masih mengalami kelemahan dalam sistem dan sumber daya manusianya.RB. Dwi Wahyu Budianto sebagai dewan perlu meningkatkan pengawasan terhadap perkembangan koprasi. Ia juga menyebutkan pentingnya pendampingan koprasi dari pemerintah. Selain itu Dwi mencermati 1/3 koprasi di DIY berwujud simpan pinjam. “Peminjaman yang dikeluarkan tidak hanya untuk modal usaha, melainkan untuk pendidikan biaya anak.” Ungkapnya.

Sulthoni dari Disperindagkop mengakui hal tersebut. Ia menambahkan selain simpan pinjam, ada juga yang berbentuk koprasi produsen, pemasaran, distribusi, dan jasa transportasi.” Ungkap Sulthoni.

Menanggapi pernyataan-pernyataan tersebut, Joko dari Sleman meminta agar dilakukan standarisasi koprasi. Dumairi mengapresiasi usul Joko. Hanya saja hal tersebut akan  sulit diterapkan. “Koprasi bukan lembaga bisnis karena landasan koprasi bukan uang saja, melainkan kesejahteraan.”

Ditanya perihal jumlah koprasi yang tersebar di DIY, Dwi sapaan akrab RB. Dwi Wahyu Budianto menyatakan terdapat sekitar 2200 koprasi.  “78 dihentikan karena peran koprasi tidak jalan.” Tuturnya. (S)

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*