KPP DIY Gandeng Lions Club untuk Berantas Gizi Buruk

Tingginya gizi buruk di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi perhatian khusus  Kaukus Perempuan Parlemen Daerah Istimewa Yogyakarta (KPP DIY). Ketua KPP DIY,  Rany Widayati, mengungkapkan bahwa di sejumlah daerah di DIY masih ditemukan kasus gizi buruk yang penanganannya tidak cukup hanya dilakukan oleh pemerintah setempat, melalui Rumah Pemulihan Gizi (RPG) yang ada di beberapa Kabupaten/Kota di DIY.

“Karena itu kami dari KPP DIY mengajak berbagai elemen masyarakat, aparat pemerintah maupun dari swasta untuk ikut terlibat membantu pemulihan korban yang kekurangan gizi,” kata Rany, Selasa (2/2/2016).

Wakil Ketua DPRD DIY ini mengatakan, kini masyarakat DIY perlu diajak untuk terjun bersama membuat gerakan konkrit seperti bakti social dan kampanye melek gizi. Seperti yang dilakukan KPP DIY bersama KPP Gunung Kidul, Yogyakarta, Sabtu (28/1/2016) pekan lalu. Dengan menggandeng Lions Club Puspita Mataram Yogyakarta, KPP DIY, melakukan kampanye melek gizi, sekaligus bakti sosial di Balai Dusun Pejaten , Giriwungu, Kecaamatan Panggang, Kabupaten Gunung Kidul. Presiden Lions Club Iriana, beserta anggota Lions Club lainnya, juga turut hadir dalam kegiatan tersebut.

“Target pemulihan gizi dalam baksos bersama Lions Club ini tidak hanya anak-anak balita, tetapi juga orang tua lanjut usia. Komunitas-komunitas lain perlu juga melakukan hal ini. Di samping itu, kita tetap meminta Pemerintah untuk serius menangani kasus kekurangan gizi di DIY,” imbuhnya.

Ketua KPP Gunung Kidul Ery Agustin menambahkan, data dari Dinas Kesehatan Gunung Kidul pada tahun 2015, terdapat 12 persen dari total 35 ribu balita di Gunung Kidul yang mengalami kekurangan gizi. “Tahun lalu tercatat 30-an kasus. Meski jumlahnya di bawah rata-rata nasional, kami berharap pemerintah tetap berusaha meminimalisir angka tersebut,” kata Ery.

Di DIY, menurut pakar gizi  nasional, Prof. Ali Khomsan, prevalensi balita yang mengalami kekurangan gizi mencapai 16,2 persen. Sementara untuk yang bertubuh pendek (stunting) sebanyak 27,3 persen dan obesitas sebanyak 10.3 persen.  (Maria)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*