Kunjungan DPR Papua di DPRD Provinsi DIY

dsc_0524Jogja, dprd-diy.go.id – DPR Papua melakukan kunjungan kerja ke  DPRD Provinsi DIY di Ruang Ragab lantai 3, Gedung DPRD DIY pada hari Senin (17/10/2016). Kunjungan kerja  ini dihadiri oleh H. Yoeke Indra Agung Laksana, S.E, Arif Noor Hartanto, S.IP, Hery Sumardiyanta selaku sekretaris Komisi A DPRD Provinsi DIY, R. Yuliyanti selaku perwakilan Biro Tata Pemerintahan. Kunjungan kerja ini dilakukan oleh DPR Papua dalam rangka membahas  Pembobotan Raperdasus Pengendalian Penduduk di Papua. Kunjungan kerja ini disambut dengan baik oleh Arief selaku pimpinan DPRD DIY.

Yoeke turut menyambut kunjungan kerja ini dengan baik. Beliau menyebutkan bahwa pembahasan kali ini berkaitan dengan kependudukan yang berada pada ranah Arief, sehingga Arief yang akan menjelaskan lebih panjang. Yoeke mengatakan bahwa Joga dan Papua adalah wilayah yang disoroti di Indonesia setelah Jakarta, maka penting halnya menjaga keharmonisan warga Joga dan Papua. “Jogja sangat terbuka untuk siapa saja”, tambahnya.

Arief menjelaskan bahwa persoalan kependudukan adalah hal krusial bukan hanya administrasi namun pembentukan karakter juga. Arief menyebutkan, “Penduduk paling ideal adalah penduduk yang tumbuh seimbang (PTS).” Menurutnya DIY sudah padat, namun berbeda dengan Papua. Wilayah Papua masih luas, sehingga angka kelahiran jangan dibatasi. Berbeda dengan DIY yang pertumbuhan penduduknya semakin bertambah. Terkait dengan administrasi, ada permasalahan yang muncul seperti KTP ganda. Hal itu dapat diatasi dengan pembuatan Surat Keterangan Tinggal Sementara (SKTS).

Ruben Magai selaku pimpinan DPR Papua menjabarkan beberapa hal terkait dengan Raperdasus Pengendalian Penduduk di Papua. Beliau mengatakan, “25% warga kami (Papua)  berada di Jogja. Saya minta untuk turut memperhatikan hal tersebut, karena kita ini tetap satu, Indonesia.”

DPR Papua menyebutkan bahwa infrastruktur di DIY sudah cukup baik. DPR Papua menjelaskan bahwa pendatang dari luar Papua banyak berdatangan ke Papua. Hal ini menyebabkan biaya hidup mahal. Tujuan DPR Papua berdiskusi mengenai Raperdasus Pengendalian Penduduk di Papua di DIY karena DIY dinilai sebagai daerah yang juga memilki banyak pendatang dari luar DIY. “Apakah baik jika diadakan Perda pengendalian penduduk? Karena yang sudah-sudah banyak pihak berpikiran kalau Papua tertutup, padahal kami hanya ingin Papua sejahtera”, tanya salah seorang perwakilan DPR Papua.

Jumlah warga Papua hanya sedikit, namun perputaran ekonomi tidak begitu terasa di Papua. DPR Papua menjelaskan angka pendatang di Papua 5,5% per tahun, ini adalah angka terbesar di Indonesia, Indonesia saja hanya 1,49% per tahun.Terkait dengan hubungan antara warga Jogja dan Papua, mereka mohon pengertiannya karena memang karakter warga Papua berbeda dengan warga Jogja.

Arief turut simpati dengan permasalahan yang ada di Papua. Beliau menyebutkan bahwa hal ini bukanlah problem yang sederhana. Permasalahan yang menonjol di Papua ini menjadikan orang asli Papua terpinggirkan. “Karena jika Papua maju namun karea orang luar, itu artinya maju semu”, tambahnya. Terkait dengan pembatasan pertambahan penduduk, Arief menyatakan sepakat dengan hal tersebut.

Yuli selaku perwakilan dari Biro Tata Pemerintahan menyebutkan bahwa perlu adanya peraturan yang mengatur penduduk pendatang. Yuli akan menjelaskan lebih detail di pertemuan yang akan diselenggarakan di Eksekutif setelah pertemuan ini.

Hery selaku sekretaris Komisi A DPRD DIY menambahkan memang perlu ada peraturan yang mengatur penduduk yang tinggal, perlu ada sistem kependudukan yang menata, baik administrasi, kualitas penduduk, maupun perencanaan pembangunan.

Arief menambahkan lagi bahwa DIY sendiri belum memiliki Perda tentang pengendalian penduduk. Pada intinya Arief sepakan dengan Raperdasus Pengendalian penduduk di Papua.

Yoeke menjelaskan di akhir rapat terkait dengan kependudukan akan berkesinambungan dengan masalah pendidikan dan budaya. Ia berpendapat bahwa Perda pendidikan dan budaya akan baik jika dikaji oleh Papua. Yoeke menegaskan, “Penduduk asli harus berjaya di tanahnya sendiri.” (nrt)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*