PKBTS (Persatuan Keluarga Besar Tamansiswa) Cetuskan Pengembangan Sekolah Laboratorium Berbasis Budaya

dsc_0447Jogja, dprd-diy.go.id – Persatuan Keluarga Besar Tamansiswa (PKBTS) pada hari Senin, (3/10/2016) berkunjung ke gedung DPRD DIY untuk membahas mengenai pengembangan sekolah laboratorium berbasis budaya. Perwakilan dari PKBTS yaitu Darmaningtyas, Dyah Riyanti, Cahyono Agus, Prijo Mustiko dan Muri Kuswanto. Kunjungan ini dihadiri pula oleh Kepala DPRD DIY, Perwakilan dari Komisi D DPRD DIY, Setda DIY, Perwakilan dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, dan perwakilan dari Dinas Kebudayaan.

Program ini diajukan dengan harapan tamansiswa mampu menjadi pagar yang menyuburkan tanaman. Menjelang 100 tahun Tamansiswa pada tanggal 3 Juli Tahun 2022 mendatang, PKBTS ingin membuat program baru. Program tersebut yaitu, “Mewujudkan Perguruan Nasional Kebangsaan Berbasis Kebudayaan”. Program tersebut dilakukan karena PKBTS khawatir dan resah akan nasib Tamansiswa. Mereka khawatir bahwa Tamansiswa nantinya hanya tinggal sejarah.

Prijo Mustiko menyebutkan bahwa Program Pengembangan Perguruan Ibu Pawiyatan Tamansiswa sebagai Sekolah Laboratorium Berbasis Budaya ini memilki visi, “Terwujudnya atau terbangunnya Perguruan Nasional Kebangsaan Berbasis Kebudayaan dengan landasan filosofi ajaran Ki Hadjar Dewantara dan Ketamansiswaan sebagai kancah pendidikan kader bangsa yang memiliki karakter dan berjiwa budaya luhur”. Kemudian Cahyono Agus menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan program Pengembangan Sekolah Laboratorium Berbasis Budaya ini.

Yoeke Indra Agung Laksana, mengatakan  DPRD DIY mendukung dan mengapresiasi dengan adanya program Sekolah Laboratorium Berbasis Budaya, hal tersebut juga merupakan sebuah akselerasi  bagi visi dan misi pemerintah DIY. Perlu adanya sinergitas pemerintah daerah dengan dinas pendidikan, hal tersebut memerlukan waktu yang tidak singkat. Program tersebut juga terdapat payung hukumnya, yaitu perda pendidikan formal berbasis budaya.

Harapannya pemerintah provinsi DIY dapat selalu membuat jalinan-jalinan sebuah karya yang indah dalam pendidikan dan budaya. Kebijakan-kebijakan dari Pemerintah Provinsi DIY akan ditindaklanjuti oleh DPRD, begitu tambahnya.

Ir. Atmaji selaku perwakilan dari Komisi D turut mengapresiasi pendidikan yang telah dikonsepkan menurut perspektif Universitas Sarjana Wiyata Tamansiswa (UST). Beliau menginginkan agar ciri khas Jogja seperti halnya pada pendidikan berbasis budaya mampu lebih menonjol lagi.

Isti Triasih perwakilan dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga mengatakan dengan adanya program tersebut dapat membuat Taman Siswa eksis kembali, diharapkan program ini dapat berjalan bersinergi dengan dinas pendidikan dan budaya, sehingga pendidikan dan budaya ini menjadi hal yang tidak dapat terpisahkan. Hal ini sudah ada wacana dan Perda DIY No 5 Tahun 2011 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan Berbasis Budaya yang mengatur sebagai payung hukumnya.

Didik Purwadi perwakilan dari Setda DIY mengatakan bahwa beliau mendukung dan senang dengan program ini karena dengan adanya program ini, ia merasa memiliki “bolo” yang memiliki visi untuk mengembangkan pendidikan dan budaya di Yogyakarta. (f/r)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*