Pakar Ingatkan Pentingnya Sistem Transportasi Terpadu di Yogyakarta

Jogja, Dprd-diy.go.id, Rabu (08/02/2017) Pansus III BA No 3 Tahun 2017 tentang Pengawasan terhadap Pengelolaan Sistem Pelayanan Angkutan Orang di Jalan dengan Kendaraan Umum Wilayah Perkotaan dengan Sistem Buy The Service DIY melaksanakan rapat kerja dengan Kepala Laboratorium Transportasi UGM Prof Ahmad Munawar. Rapat tersebut dilaksanakan di Ruang Rapat Bapemperda Lantai 2 Gedung DPRD DIY dan turut dihadiri oleh pimpinan dan anggota Pansus dengan harapan mendapatkan penjelasan, saran, masukan serta kritik terkait transportasi umum di Yogyakarta yang nantinya dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan Dewan untuk membuat Keputusan Dewan.

Menurut Ahmad Munawar, kemacetan  merupakan permasalahan yang sudah ada sejak lama di Yogyakarta. Salah satu penyebab kemacetan ini adalah system transportasi umum yang buruk. Hal ini berdampak pada rendahnya minat masyarakat untuk menggunakan kendaraan umum sebagai moda transportasi utama. Ada 4 faktor penyebab transportasi umum terutama Trans Jogja kurang diminati masyarakat, pertama peremajaan bus kurang karena biaya operasional yang flat. Ini disebabkan karena di tahun-tahun awal pengelola Trans Jogja tidak melakukan saving untuk biaya perbaikan bus. Akibatnya di tahun kedua dan ketiga, pengelola kalang kabut mengalokasikan biaya perbaikan. Kedua, perlu penambahan halte di tempat-tempat strategis. Ini sesuai dengan kondisi lapangan dimana jumlah halte yang ada dirasa masih kurang. Ketiga, jalur Trans Jogja hendaknya diperluas agar semakin banyak masyarakat yang menggunakan angkutan umum. Dan keempat, penyebaran informasi Trans Jogja. Diperlukan kerjasama dengan pihak lain guna memberikan informasi detail mengenai rute, tarif, halte dan informasi lainnya.

Dari empat penyebab kemacetan tersebut, diperlukan langkah strategis guna mengurai kemacetan yang semakin meningkat. Ahmad Munawar menambahkan bahwa diperlukan kendaraan umum yang saling terintegrasi di Yogyakarta. Trayek yang ada sekarang hendaknya dikembangkan hingga ke wilayah pedesaan, trayek-trayek cabang dan ranting harus terintegrasi dengan trayek utama. Trayek cabang berupa angkutan bus kecil ke Kabupaten-Kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta dan trayek ranting berupa kendaraan roda empat kecil di pedesaan dan jalan-jalan kecil. Saling terhubungnya antar trayek nantinya dapat mempermudah masyarakat yang ingin menggunakan kendaraan umum serta mempermudah Pemerintah untuk mengintegrasikan sistem transportasi terpadu.

Huda Tri Yudiana, selaku anggota Pansus menyatakan bahwa selama ini Transportasi di DIY masih terfokus di wilayah perkotaan dan belum menjangkau Kabupaten lainnya. Trayek yang terbatas ini membuat masyarakat enggan menggunakan Trans Jogja karena dinilai kurang efektif dan efisien. Selain itu aspek kenyamanan juga masih menjadi sorotan masyarakat. Oleh karenanya, pihaknya setuju jika trayek cabang dan ranting dihidupkan kembali guna mendukung trayek utama. Trayek-trayek tersebut jika dikembangkan dan diintegrasikan dengan baik maka harapan Yogyakarta memiliki sistem transportasi terpadu bisa terwujud.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*