MAHASISWA JANABADRA TERIAKKAN PERLINDUNGAN RAKYAT KECIL DAN PETANI

Penganiayaan dan pembunuhan yang terjadi pada Salim Kancil aktivis penolak tambang pasir Lumajang membawa keprihatinan semua kalangan. Salim Kancil dan Tosan sebelumnya telah mendapatkan ancaman dan mengadukan ke kepolisian namun tidak mendapatkan tanggapan. Hingga peristiwa maut menimpa Salim Kancil yang dilakukan oleh segerombolan preman.

Bersamaan dengan peringatan hari Kesaktian Pancasila yang jatuh setiap tanggal 1 oktober, mahasiswa Universitas Janabadra menyuarakan protes ke DPRD DIY. Penindasan terhadap masyarakat kecil seperti petani kerap terjadi. Hal tersebut diungkapkan Ikrom Lajimah.

Ikrom Lajimah yang juga koordinator aksi, mengusung penghentian perampasan tanah dan realisasi Undang-Undnag Pokok Agraria (UUPA). Di DIY Sendiri, perampasan tanah masih kerap terjadi. “Di negeri agraris ini ternyata masih banyak petani menangis.” Ungkap Ikrom Lajimah.

Pembangunan bandara disebut sebagai contoh nyata perampasan tanah di DIY. Penolakan yang dilakukan para petani Temon Kulon Progo tidak mendapatkan perhatian. Pembangunan bandara tetap akan dilanjutkan.

Selain pembangunan bandara di Temon Kulonprogo, pembangunan pabrik semen di kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan lindung di pegunungan Kendeng Utara. Begitu juga di Urut Sewu, Kebumen Selatan. Konflik masyarakat dengan TNI terjadi karena masyarakat menolak pembangunan tempat latihan. Sengketa mengakibatkan kepala desa mengalami luka di bagian kepala, seorang ibu hamil mengalami keguguran akibat ketendang saat bentrok. (S)

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*