Mata Garuda gelar Seminar bertema “Yogyakarta Sebagai Kota Budaya dan Kota Pelajar serta Kearifan Masyarakat yang Mendunia” di DPRD DIY

Mata Garuda yang merupakan asosiasi alumni beasiswa dari LPDP ( Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan) bertandang ke Ruang Banggar Lt. 2 Gedung DPRD DIY bertemu dengan Wakil rakyat. Adapun pertemuan ini di isi dengan kegiatan seminar.,  kegiatan kali ini juga dihadiri langsung wakil ketua DPRD DIY yaitu Dharma Setiawan MBA

Selain dihadiri oleh para delegasi yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, hadir pula Martina Sinta Krisanti ( duta museum) sebagai pembicara pertama, dan Danang ( ketua umum Mata Garuda) sebagai pembicara kedua

Acara yang mengangkat tema “Yogyakarta Sebagai Kota Budaya dan Kota Pelajar serta Kearifan Masyarakat yang Mendunia” ini  mendapat apresiasi yang sangat tinggi dari  Dharma Setiawan selaku Wakil ketua DPRD DIY, beliau menyadari bahwa pemerintah membutuhkan masukan serta kritik khususnya bagi Perdais Kebudayaan.

Dengan kegiatan semacam ini, harapannya  insan yang tergabung didalam  asosiasi Mata Garuda mendapatkan manfaat dari segi pengetahuan dan memberikan sumbangsih ide  terkait  kebudayaan di DIY.

Apresiasi  serupa disampaikan oleh Martina, namun tidak sampai disitu saja, pada kesempatan ini Martina juga membagi pengalamannya perihal Museum di DIY dengan kapasitasnya sebagai duta  museum di DIY.

Menurut beliau, museum adalah cerminan budaya, lewat museum kita dapat menghubungkan apa yang terjadi pada masa lalu dan masa kini sehingga pola kehidupan masyarakat sekitar dapat dipelajari. Di DIY sendiri terdapat 44 museum yang dibagi kedalam 3 kelompok  khusus. Yang  pertama adalah  museum  perjuangan, yang  kedua seni budaya dan tradisi dan terakhir museum  pendidikan  teknologi.

Pembicara selanjutnya yang merupakan ketua umum Mata Garuda sendiri. Dalam kesempatan ini disampaikan bahwa beliau selaku ketua Mata Garuda memberikan  peluang  yang sebesar besarnya bagi pemerintah DIY dalam pelibatan insan insan mata garuda baik dalam proses perencanaan  kebijakan, maupun pembahasan  isu isu terkini.

Hal ini disampaikan  mengingat insan insan yang tergabung di dalam mata garuda memang terdiri dari berbagai multi disiplin ilmu yang berkualitas, selain itu semangat untuk berkontribusi nyata pada bangsa dan negara pada dasanya merupakan  pedoman Mata Garuda dalam  melaksanakan  seluruh kegiatannya.

Sesi selanjutnya, delegasi yang ada berkesempatan mengajukan pertanyaan terkait pemaparan dari masing masing pembicara khususnya terkait kebudayaan di DIY. Berikut beberapa pertanyaan  yang berhasil ditampung saat sesi ini.

Apakah terdapat regulasi khusus yang diterapkan untuk menjaga eksistensi budaya DIY tanya  Ruswandi dari Komunikasi Poltik UNHAS dan Apa perbedaan potensi museum di belanda dan di Indonesia khususnya DIY Tanya Evan dari Sumut

Di jawab oleh wakil ketua DPRD DIY yaitu Dharma Setiawan MBA , Tentu terdapat regulasi yang mendukung eksistensi budaya di DIY tetap bertahan, salah satunya  yang  paling berpengaruh adalah lahirnya Undang Undang Keistimewaan pada tahun 2012 yang menjadi alas hukum bagi berkembangnya kebudayaan DIY.

Martina menyambung menjawab, Terdapat beberapa perbedaan yang dapat dilihat, yang pertama di belanda sendiri memelihara budaya telah  menjadi bagian dari kehidupan  masyarakatnya. Untuk negara yang kecil seperti belanda, mereka memiliki kurang lebih 60 museum. Ini merupakan  jumlah yang sangat banyak. Koleksi nya pun sangatlah banyak dan beragam . keseluruhannya di rawat dan dijaga dengan sangat baik. Bagi masyarakat belanda, , mengenal masa lalu dan budaya adalah hal yang menyenangkan, berbeda dengan Indonesia yang minat untuk mengenal budaya atau datang ke museum yang masih sangat rendah.

Setelah seluruh rangkaian acara terpenuhi peserta seminar lantas mengabadikan kesempatan ini dengan berfoto bersama. (as/bfi)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*