Menilik Aktivitas Desa Ketahanan Pangan Ngawu

Jogja, dprd-diy.go.id – Senin (9/1/2017) Komisi B berkunjung ke desa ketahan pangan di Sumberejo, Ngawu, Playen, Gunung Kidul. Tepatnya di Pusat Pelatihan Pertanian Dan Perdesaan Swadaya (P4S) Putri 21 aktivitas pemberdayaan dan peningkatan ekonomi sedang berlangsung.

Berbagai makanan diproduksi seperti mocaf modifikasi  cassava flour, tepung pisang, tepung sukun, tepung garut, tepung gayong, tepung tales, tepung ubi ungu atau kuning, mie ayo dengan 17 varian rasa, egg roll, stik ubi ungu atau kuning, abon bonggol pisal, tepung bumbu, berbagai macam keripik, minuman instan, beras analog dan gatot instan serta tiwul instan.

Suti Rahayu selaku Ketua P4S Putri 21, bercerita kegiatan yang kini berlangsung yang berawal pada sekitar akhir tahun 2006. Saat itu Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (BP2KP) Kabupaten Gunung Kidul mengadakan kegiatan kursus tani di Kecamatan Playen. Selama tiga hari pelatihan diadakan, dan diikuti oleh 21 orang tani. Awal tahun 2016, para alumni kursus tersebut bermusyawarah untuk melanjutkan kegiatan tersebut, dan akhirnya terbentuklah kelompok dengan nama Putri 21. “Dan saya sebagai ketuanya.” Ungkap Suti Rahayu.

Berbagai upaya dilakukan untuk mengembangkan Putri 21. Di antaranya dengan meningkatkan keterampilan, mengembangkan usaha, dan menjalin kerjasama dengan berbagai pihak seperti Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) DIY, KPPD/BP2KP Kecamatan Playen, Perindagkop ESDM Kab. Gunung Kidul, LIPI, P4S Tani Wijaya Tajungsari, Gunung Kidul, UGM, P4S Bank Indonesia, BPPT Serpong, Dinas Pertanian Gunung Kidul, dan Dinas Pertanian DIY.

Usai mendengarkan cerita Suti Rahayu, Janu Ismadi selaku ketua Komisi B meminta agara Suti Rahayu bercerita terkait produksi, pemasaran dan kendala. Dengan semangat, Suti Rahayu mengemukakan bahwasanya proses produksi lancar. Bahan baku sejauh ini mampu didapatkannya dari Gunung Kidul sendiri. Adapun terkait pemasaran, hanya terfokus pada satu pintu-satu pintu saja, ia tidak turut terlibat mengecek dimana agen memasarkannya.

Ia bersyukur perihal pemasaran lancar dan tidak ada kendala. “Kita kendalanya ada di alat pak.” Tuturnya. Alat yang digunakan packing rusak sudah dibenahi tidak juga dapat difungsikan. Selain itu, ia juga belum memiliki alat yang otomatis. “sehingga, penataan, penimbangan dan pemotongan semuanya masih manual.” Jelasnya.

Menanggapi hal tersebut, RB. Dwi Wahyu B  meminta agar Kunjoro dari BKPP DIY memperhatikan dan mengusahakan agar berbagai instansi ikut terlibat. Ia berharap, kegiatan yang digawangi Suti Rahayu ke depannya semakin dapat semakin berkembang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.