Menjamurnya Pembangunan Hotel di DIY Risaukan Masyarakat

pembangunan hotel jogja tvJogja, dprd-diy.go.id – Menjamurnya pembangunan hotel di DIY menimbulkan kerisauan. Kemacetan, perusakan lingkungan tidak dapat dihindari akibat pembangunan yang tidak ramah lingkungan. Ungkapan tersebut menjadi awal pembuka Drs. Sutata komisi C pada jum’at, 29 mei 2015 di Jogja TV.

Ni Made Dwipanti Indrayanti dari Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) menjamurnya pembangunan hotel dipicu oleh rendahnya kesadaran masyarakat. Dari tingkat RT banyak yang belum memahami aturan yang ada. “Masyarakat harusnya tahu setiap kawasan ada peruntukannya.” Kata Ni Made.

Hal tersebut dibenarkan Hendro, Badan Lingkungan Hidup (BLH). “Wawasan lingkungan sudah seharusnya dijadikan pertimbangan dalam pembangunan.” Perlu dilakukan analisis tata ruang dan prosedur harus dipenuhi.” Ungkap Hendro.

Tujuan taat prosedur dilakukan demi keamanan, kenyamanan, keadaan kondusif, terstruktur dan meminimalisir dampak bagi lingkungan sekitar. Hendro menyayangkan kebanyakan pembangunan dilakukan tanpa mengindahkan AMDAL (Analisis Dampak Lingkungan). “Yang sering pembangunan dulu baru AMDAL.” Tambah Hendro.

Joko dari prambanan bertanya via telpon. “ Berapa jumlah ideal hotel di Jogja dan apakah tata ruang Jogja sudah sesuai KLHC?” menanggapi hal tersebut Ni Made belum dapat memastikam. “Kalau melihat jumlah kunjungan wisata yang dinamis, maka sulit ditentukan hitungan pastinya.” Jawab Ni Made. Hal tersebut diungkapkan Ni Made karena setiap wisatawan memiliki preferensi hunian yang berbeda. Namun Ni Made melihat perlu diadakan batasan pembangunan hotel agar jumlah hotel tidak melebihi jumlah kebutuhan hunian.

Adapun Heru dari Kalasan memberikan saran agar dampak lingkungan seperti limbah segera ditangani. Ia berharap DIY sebagai kota budaya tidak tergeser oleh pembangunan hotel modern. Hendro menyetujui saran tersebut. “Harus ada upaya prefentif untuk menjaga kelestarian lingkungan. Ungkap Hendro.

Agar pembangunan hotel dapat ditangani dengan baik dan diantisipasi dampaknya, Drs. Sutata bersama komisi C akan lebih intensif lagi berkomunikasi dengan BLH. Harapannya agar dapat mewujudkan impian masyarakat agar DIY tetap menjadi kota berhati nyaman, istimewa dan berbudaya. Aman, nyaman, tentraM dan sejahtera pendatang dan pribuminya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*