PEREMPUAN PARLEMEN PERINGATI HARDIKNAS

DSC_0719Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) turut mencuri perhatian kaum perempuan di DPRD DIY. Tampak Hj. Rany Widayati S.E., M.M, Nur Jannah komisi D, Nunung Komisi A, dan Dra. Hj. Marthia Adelheida komisi B. Para perempuan yang tergabung dalam Kaukus Perempuan Parlemen tersebut mengadakan FGD (Forum Group Discussion) pada sabtu (23/5).

60 undangan disebar ke masing-masing kepala sekolah di DIY. Meliputi sekolah dasar (SD), SLTP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama), dan SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas) atau SMK (Sekolah Menengah Kejuruan).

Tiga narasumber dihadirkan. Diantaranya, Drs. Selamet Purwo kepala SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta, Suroyo Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga dan Drs. Djoko Dwiyanto Dewan Kebudayaan. Dipandu Erwin Nizar, diskusi berlangsung sekitar empat jam.

Suroyo menyatakan pandangannya terkait perkembangan pendidikan di era internet. Ia menyinggung tentang DIY yang menerapkan pendidikan berbasis budaya. Adapun maksut pendidikan berbasis budaya adalah pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan di DIY disesuaikan dengan Kemendiknas.  Namun dalam penerapannya ditambah dengan memasukkan nilai-nilai budaya yang berkembang di DIY. Meski demikian, tetap mengapresiasi budaya lain, budaya nasional dan budaya global.

Terdapat enam misi dalam pendidikan berbasis budaya. Pertama,:menyediakan pendidikan berkualitas untuk semua dan nondiskriminatif. Kedua, mengembangkan pendidikan karakter berbasis budaya.Ketiga, mengembangkan pusat-pusat unggulan mutu pendidikan. Ke empat , mengembangkan peran sinergis pendidikan terhadap pembangunan. Kelima, mengembangkan pembinaan pemuda dan olahraga yang berkualitas dan berkarakter. Ke enam mengembangkan tata kelola pendidikan, pemuda, dan olahraga berbasis budaya.

Djoko Dwiyanto berharap agar diadakan review terhadap undang-undang yang berlaku. Tidak mengubah hanya saja merevisi agar penerapannya sesuai dengan konteks yang ada. Pemaparan terakhir disampaikan oleh Selamet. Ia mengajak para kepala sekolah dan anggota dewan supaya memikirkan keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pendidikan berbasis budaya. “Kita ingin menerapkan tiga ranah pendidikan. Kognitif, afektif dan psikomotorik.” Ungkapnya. Hanya saja ia melihat masyarakat belum siap.

Usai menyampaikan paparan masing-masing narasumber, Erwin selaku moderator memberikan kesempatan kepada peserta menanggapi, bertanya ataupun mengkritik. Rubiatno mengungkapkan pendidikan berbasis budaya belum dipahami secara menyeluruh. “Banyak simbol-simbol Jogja yang belum dipahami oleh anak-anak.” Kata Rubiatno. Ia meminta buku-buku tentang pendidikan berbasis budaya diperbanyak. Ia juga menyarankan agar pengerjaan buku bekerjasama dengan pihak-pihak terkait baik dalam penulisan ataupun isi.

menanggapi usulan Rubiatno, Suroyo menuturkan telah diadakannya progam buku baru. Reverensi-reverensi dalam penulisan buku disertakan demi mendapatkan rujukan yang akurat. “Yang jelas dengan berbagai  cara akan kami upayakan.” Ucap Suroyo.

Dra. Hj. Marthia Adelheida turut memberikan pandangan. Sebagaimana yang diungkapkan Suroyo, pendidikan saat ini bersaing dengan teknologi atau era internet. Siswa telah disibukkan dengan permainan gadjet. Adel mengusulkan agar masing-masing dari kita melakukan pembatasan diri. Hal tersebut disetujui Djoko Dwiyanto. Namun ia menuturkan bahwasanya budaya dan teknologi bukanlah hal yang berbeda. Melainkan teknologi adalah bagian dari budaya. “Bagaimana kita mengenakan teknologi untuk menjadi pribadi yang berbudaya.” Ungkapnya.

 

 

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*