Progam Apik dari Petani di Awal Tahun 2018

Jogja, dprd-diy.go.id – Senin, (8/1/2018) Persaudaraan Mitra Tani Nelayan Indonesia (Petani) berkunjung ke DPRD DIY . Petani yang baru diresmikan pada September 2017 diterima oleh Pimpinan Komisi B DPRD DIY di Ruang Lobby Lt. 1. Petani ini telah ada secara menyeluruh di Indonesia, dan setiap daerah telah membentuk Dewan Pengurus Wilayah.

Konsen Petani di antaranya konsen pada bidang pertanian, nelayan, pendistribusian hasil pertanian, pengolahan, pembuatan pupuk. Adapun kegiatan nyata yang telah dilakukan untuk meningkatkan produktifitas pertanian ialah membuat laboratorium lapangan, membangun sekolah dengan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Sekolah pertanian sendiri telah terbangun dan dioprasikan pada bulan Desember 2018 dan telah memiliki 60 siswa. “Pembelajaran hanya dilakukan di hari saptu.” Ungkap Asih perwakilan dari Pertani.

Di sekolah pertanian tersebut siswa akan diajari enterpreuner atau pemasaran hasil produksi, dan juga dikenalkan dengan digital yakni memanfaatkan teknologi modern untuk bertani.  Setelah dengan seksama mendengan penjelasan dari Petani, Komisi B yang terdiri dari Rany Widayati, Marthia Adelheida, dan Dwi Wahyu B mengapresiasi langkah yang ditempuh Petani. “Sebenarnya kita juga punya progam pelatihan. Hampir sama kan sekolah dan pelatihan?” Kata Dwi Wahyu B.

Dwi Wahyu B menjelaskan dan menghimbau supaya langkah yang telah ditempuh Petani dilanjutkan dan dipersiapkan lebih matang untuk kemudian kembali dirapatkan dengan mengundang Dinas Perindustrian  dan Perdagangan (Disperindag), Dinas Pertanian, Dinas Koprasi dan dinas-dinas terkait. Alasannya, supaya ide-ide tidak hanya mengendap, melainkan terfasilitasi dengan tunjangan anggaran yang hal tersebut dapat dilakukan melalui keijakan-kebijakan.

Hal yang sama diutarakan Rany Widayati Komisi B sekaligus Wakil Ketua DPRD DIY. Rany mendukung penuh kegiatan yang digagas oleh Petani. Terlebih ketika Petani mencontohkan hasil-hasil produksi Petani seperti beras, buah, dan bubur yang terbuat dari mutiara, jagung, dan daun kelor. Rany juga menyampaikan ketahanan pangan di DIY memang harus dijaga dan dilestarikan, supaya DIY mandiri. Berkurangnya lahan pertanian setiap tahunnya di DIY menjadi keprihatinan tersendiri bagi politikus dari Fraksi Golkar tersebut. “berubah jadi tanaman beton.” Ungkap Rany.

Disayangkan menurut Marthia Adelheida, istilah-istilah hasil produksi menggunakan bahasa inggris, seperti red rice, brown rice, Fresh Mint Tea. Namun untuk hasil produksi yang dijadikan sample benar-benar diapresiasi Marthia Adelheida, terlebih adanya inofasi bubur yang terbuat dari mutiara, jagung, dan daun kelor. (S)

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*