Siap Menghadapi RAPBD 2015

Jum’at (31/10), Wakil Ketua II DPRD DIY Ibu Ranny Widayanti beserta Ketua BAPPEDA DIY Bapak Tavip Agus Rayanto dan Pengamat Bapak Radito menjadi narasumber dalam dialog interaktif program “Jogja Istimewa” di TVRI Jogja guna membahas RAPBD DIY 2015. Dalam dialog interaktif tersebut, Ibu Ranny Widayanti memberikan pernyataan tentang kesiapan alat kelengkapan dewan menjelang pembahasan RAPBD DIY 2015. Sedangkan Bapak Tavip Agus Rayanto membahas tentang alokasi dan performa RAPBD DIY pada tahun sebelumnya. Pengamat Bapak Radito memberikan penilaian tentang RAPBD DIY sebelumnya yang mendapatkan penilaian positif dari segi ekonomi, efisiensi dan efektivitas, keadilan, responsivitas, dan akuntabilitas.

Erni dari Forum Komunikasi Perempuan Politik Daerah Istimewa Yogyakarta mempertanyakan Responsivitas gender dalam RAPBD DIY 2015. Ranny Widayanti wakil DPRD DIY menjawab Untuk responsivitas gender, akan dicermati semua hal di komisi. Setiap komisi di DPRD DIY ada wanitanya dan di tiap bidang harus ada perempuannya. Dalam menghadapi RAPBD kita sudah siap tinggal Finalisasi saja semoga kerjanya lancar.

Bapak Radito menyambung Mengenai responsif gender, penilaian mengenai APBD DIY sebelumnya agak kurang responsif. Untuk akses membuka dana keistimewaan juga kurang. Karena websitenya kurang aktif. Dan yang perlu diperhatikan untuk RAPBD selanjutnya adalah efektivitas anggaran.

DPRD DIY akuntabilitasnya tinggi. Namun masalahnya adalah koordinasi, sehingga informasi mengenai alokasi APBD tersebut minim. Untuk ke depannya memang Jogja diarahkan untuk menjadi cyber city. Sekaligus menjawab Yuliana dari Forum Komunikasi Perempuan Politik DIY pengembangan cyber city.

Anggaran untuk pendidikan sudah dialokasikan 20%, ini lebih besar daripada anggaran untuk infrastruktur. Anggaran juga dialokasikan untuk pemberian dana apresiasi untuk pemuda. Kami juga berencana untuk merekrut fresh graduate untuk membantu PNS supaya mereka memiliki pengalaman kerja terlebih dahulu. Kemudian anak-anak yang tidak bisa sekolah akan kami kembangkan ke vokasi atau sekolah komunitas yang nanti akan mendapatkan sertifikat setara menempuh pendidikan formal. Sedangkan untuk arah Jogja akan dijadikan apa, adalah membangun Jogja berdasarkan sumber daya manusia.

Untuk permasalahan Pembangunan flyover Jombor pembiayaannya bukan sepenuhnya dari provinsi. Masalahnya ada di birokrasi yang berlapis-lapis. Kemudian untuk bandara yang dipindahkan ke Kulonprogo, filosofinya adalah menjadikan Pantai Selatan sebagai wajahnya Jogja. Kalau di negara-negara maju kan sungai berada di depan rumah, sehingga benar-benar dijaga. Sedangkan di sini sungainya berada di belakang rumah, sehingga sungai nya kotor. Diharapkan kalau sungai itu di depan rumah kita, maka kita akan menjaganya supaya tetap bersih. Tandas Bapak Tavip Agus Rayanto

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*