Sidak Gelandangan dan Pengemis di Beberapa Perempatan DIY

DSC_0101 (420x279)Setelah menjaring aspirasi lewat public hearing kemarin Selasa (04/02). Panitia Khusus (Pansus) Raperda Penanganan Gelandang dan Pengemis langsung bergerak cepat melakukan kunjungan lapangan di beberapa tempat yang disinyalir sebagai pusat pengemis, pengamen dan gelandangan mangkal, Rabu (05/02). Tim sendiri terdiri dari Anggota DPRD DIY, Dinas Sosial (Dinsos), Biro Hukum DIY dan Satuan Pamong Praja DIY.  Rute pertama melewati perempatan Jl. Wonosari, disana terdapat pengamen topeng monyet. Eko dari Dinsos menjelaskan beberapa waktu lalu pengamen dan gelandangan ditempat itu sudah dirazia dan sekarang sedang direhabilitasi. “Pohon beringin sebelah timur perempatan merupakan pangkalan gelandangan dan sudah ditertibkan sedari Desember 2013,” jelasnya.  Berlanjut ke Perempatan Janti, di tempat itu sering dikeluhkan adanya pengemis wanita yang jika tidak diberi akan marah – marah. Terus ke barat di Perempatan Ring Road Maguwoharjo yang terkenal dengan pengamen waria, siang itu tidak terlihat sama sekali. “Wanita tua dan waria yang kerap mengamen diperempatan yang kita lewati tadi sudah dalam masa rehabilitasi. Namun demikian dari 8 waria yang dicekal, ada 2 yang berhasil melarikan diri dari tempat pembinaan,” ungkap Eko. Perjalanan berlanjut ke rumah Singgah Girlan Nusantara Pimpinan Priyono. Rumah Singgah yang berjumlah 300 penghuni yang terdiri dari anak gelandangan, pengamen, pengemis dan wanita tuna susila tersebut mempunyai beragam program pengembangan diri. Antara lain Koperasi, pelatihan kemandirian, beternak, penyaluran tenaga kerja dan pembekalan mental spiritual. Priyono menuturkan sepengalaman dia menjadi pengamen dan pengemis saat ini sudah berubah prientasinya dengan zaman dahulu. “Tahun 80 – 90 an mengamen dan mengemis karena kebutuhan hidup, sementara era sekarang hanya untuk kesenangan seperti mabuk dan narkoba,” ujarnya. Penghuni Girlan Nusantara sendiri mayoritas berasal dari luar DIY. Priyono beberapa waktu lalu menyarankan ke Badan Naroktika Provinsi (BNP) untuk mempunyai pusat penangulangan zat adiktif khusus anak gelandangan. Karena pihaknya menilai penyalahgunaan zat adiktif di DIY sangat mudah dan memprihatinkan.  Pembekalan mental dan spiritual diberikan dengan bantuan sukarelawan yang terdiri dari psikolog dan ulama. “Kami punya jadwal khusus untuk konseling. Wanita Tuna Susila yang disini juga sudah perlahan mengurangi aktivitas. Tentu perlu pembekalan keahlian dan modal untuk merubah kebiasan mereka. Karena disini terdapat 104 wanita Tuna Susila dan 20 diantaranya mantan residivis,”  tuturnya  Penyaluran tenaga kerja sudah dilakukan di beberapa perusahaan. Antara lain di perusahaan tambang dengan hasil yang cukup mengembirakan. “Dari 9 anak yang saya kirim ada 3 anak yang diterima,” tambanhya.  Adanya ruang gerak dan berekspresi menjadi kebutuhan untuk menyalurkan hobi. Priyono menyambut positif adanya Raperda Penanganan Gelandang dan Pengemis. Hal ini dirasa membantu perjuangannya bersama teman – teman dalam hal bekerja. “Kami megapresiasi raperda tersebut, namun perlu juga ruang gerak untuk mereka berekspresi agar tidak berbuat kriminal,” pria lulusan sarjana hukum tersebut. Nandar Winoro Ketua Pansus Raperda Penanganan Gelandangan dan Pengemis menuturkan kunjungan lapangan tersebut sebagai penyempurnaan data pelengkap. “Besok patroli dan razia akan diperketat karena fakta di lapangan bahwa adanya bencana sosial gelandangan dan pengemis bukan karena motif ekonomi melainkan mental,” ujarnya.  (hms.ed)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*