Tingginya Angka Perceraian Di Yogyakarta Menjadi Perhatian KPP

DSC_0286Sabtu,(21/11) Kaukus Perempuan Parlemen (KPP) mengadakan Focus Group Discussion (FGD) tentang menguak tingginya angka perceraian di Yogyakarta. Normawati dan Syahril  dihadirkan untuk menjadi narasumber. Syahril mengungkapkan keprihatinannya terhadap tingkat percerian yang semakin tinggi. Ia menyebutkan enam faktor terjadinya perceraian. Di antaranya moral, adanya peninggalan kewajiban/ tanggung jawab, kawin di bawah umur, menyakiti jasmani, cacat biologis, perselisihan terus menerus, dan perbedaan agama. Menanggapi pernikahan di bawah umur yang masih saja terjadi terutama disebabkan kehamilan di luar nikah. Fita Tamara dari Fakultas Hukum Pasca UII mengusulkan agar di dispensasi. Pernikahan tidak dikabulkan melainkan tetap mendapatkan pengakuhan oleh ayah biologisnya.

“Pernikahan dini memang beresiko.” Ungkap Syahril. Namun dispensasi nikah yang dikabulkan biasanya dalam keadaan darurat. “ini terkait kondisi sosial.” Tambahnya. Persepsi keluarga dan masyarakat terhadap anak yang lahir tanpa ayah adalah aib. Ditanya perihal penjagaan pernikahan agar tidak berujung pada perceraian, Syahril menganalogikan pentingnya kerjasama sebagaimana tangan kanan dan tangan kiri. Kedua tangan ini akan saling membantu, peduli dan tanggap terhadap permasalahan yang menimpa salah satunya. “Misal tangan kanan gatal, tangan kiri akan menggaruknya.” Tutur Syahril.  Syahril menghimbau agar hubungan pernikahan tidak seperti telinga kanan dan kiri yang tidak bisa saling peduli.

Faktor pendidikan disebut sebagai faktor yang penting untuk mencegah meningkatnya perceraian. Normawati menggalakkan pentingnya pendidikan adil gender sejak dini dengan kasih sayang dan tanpa kekerasan. Perempuan yang aktif di komunitas Rifka Annisa tersebut mengaku miris melihat kekerasan yang kerap terjadi pada perempuan. “Kekerasan ini baik fisik atau pun seksual.” Ungkapnya.

Macam-macam bentuk kekerasan seksual yang disebabkan adanya kekuasaan dan kendali. Di antaranya menggunakan kekerasan ekonomi, paksaan dan ancaman, intimidasi, menggunakan kekerasan emosional, mengisolasi, meminimalisasi, mengingkari dan menyalahkan, menggunakan dalih keistimewaan laki-laki.

Normawati menyayangkan pemahaman ayat  yang sepotong-potong  seperti perempuan yang menolak diajak berhubungan intim  oleh suami akan dilaknat sampai subuh termasuk bentuk kekerasan seksual. Suami perlu mengetahui kondisi istri. “ Jika istri sedang capek, mbok ya dipijit dulu.” Jelas Normawati.

Dampak kekerasan dalam rumah tangga tidak hanya terjadi pada satu orang saja. Melainkan perilaku kekerasan dapat ditiru oleh seorang anak. Selain itu, anak dapat pula trauma. Karenanya, konseling  dibuka untuk pasangan suami istri dan anak.

Baik Syahril atau pun Normawati mengaku kegiatan pencegahan perceraian tidak akan berhasil secara maksimal jika tidak melibatkan masyarakat. “Teman-teman yang ada di sini, diharapkan dapat mengambil manfaat ilmu yang telah kita pelajari dan menyebarluaskan kepada masyarakat lainnya.” Himbau Tustiyani selaku moderator yang juga anggota KPP. Di akhir acara politikus perempuan dari fraksi PDIP tersebut mengaku akan mendorong adanya penambahanan anggaran untuk mengembangkan pendidikan pra nikah. “Mohon doa restunya ya.” Pinta Tustiyani. (S)

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*