Tolak Kekerasan Aparat Terhadap Petani Dalam Pengukuran Batas Tanah Pembangunan Bandara Kulonprogo

DSC_0272Jogja, dprd-diy.go.id – Pembangunan bandara baru di Kulonprogo, hingga kini masih menyimpan persoalan. Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam komunitas Gerakan Solidaritas Tolak Bandara (Gestob) kembali menggelar aksi demo di DPRD DIY.

Mereka menolak terjadinya kekerasan yang dilakukan aparat terhadap petani dalam penghitungan selisih luas tanah yang akan dibangun bandara di Kulonprogo. Terdapat sedikitnya 30 korban dan dua petani ditangkap akibat bentrok yang puncaknya terjadi pada selasa (16/02/2016). “Proses pematokan tanah kemarin juga tanpa pemberitahan ke masyarakat. Ini jelas melanggar ketentuan yang sebenarnya mereka buat sendiri.” Ungkap Iras koordinator aksi.

Atas nama gerakan Gestob mereka menuntut:

  1. Hentikan pematokan lahan untuk pembangunan bandara;
  2. Hentikan segala bentuk represifitas terhadap petani;
  3. Tangkap dan adili aparat yang melakukan tindakan represifitas terhadap petani;
  4. Cabut inpres nomor 1 tahun 2016 dan perpres nomor 3 tahu 2016 tentang Percatan Pelaksanaan Pembangunan Nasional;
  5. Tolak MEA dan MP3EI.

ras juga menyebutkan bahwa data dari BPS (Biro Pusat Statistik) bahwasanya di sekitar pembangunan bandara terdapat 2.000 kepala keluarga atau sekitar 11.501 jiwa yang menggantungkan hidupnya dengan bertani.

Aksi ini tidak hanya dilakukan di DPRD DIY, melainkan di depan gedung Kepatihan yang terletak tidak jauh dari DPRD DIY. Aparat keamanan diterjunkan untuk mengawal aksi demo agar aman dan tidak terjadi kerusuhan. (S)

DSC_0270DSC_0268

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*