Jogja, dprd-diy.go.id – Komisi B DPRD DIY melakukan kunjungan kerja dalam wilayah DIY untuk melihat secara langsung perkembangan agribisnis hortikultura yang digagas oleh generasi muda petani di Kabupaten Sleman. Kunjungan kerja ini dipimpin oleh Ketua Komisi B DPRD DIY, Andriana Wulandari, S.E., M.IP., bersama Sekretaris Komisi B DPRD DIY, Wildan Nafis, S.E., M.H., dan diikuti sejumlah anggota legislatif lainnya pada Rabu (27/08/2025).
Dalam kunjungan tersebut, rombongan meninjau lokasi budidaya jamur lingzhi dan kebun nanas jumbo milik petani muda, Jamaludin Nur Ridho. Kegiatan ini sekaligus memperkenalkan konsep agroeduwisata terpadu yang sedang dikembangkan di Desa Margoluwih, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman.
Jamaludin telah menjalankan usaha budidaya jamur lingzhi sejak tahun 2020 menggunakan sistem tanam bergilir. Dengan lahan seluas 500 meter persegi, ia mengelola hingga 20.000 baglog (media tanam jamur). Setiap bulan, panen jamur keringnya bisa mencapai puluhan kilogram yang digunakan sebagai bahan dasar pengobatan herbal.
“Jamur ling zhi ini bernilai ekonomi tinggi dan permintaannya terus meningkat. Limbah hasil panennya juga kami manfaatkan sebagai pupuk untuk kebun nanas,” jelas Jamaludin yang juga aktif mengembangkan konsep edukasi pertanian dan pemberdayaan masyarakat sekitar melalui kegiatan wisata edukatif.
Ketua Komisi B DPRD DIY, Andriana Wulandari dalam dialog bersama petani menyampaikan pentingnya legalitas pengelolaan lahan agar program pertanian dari pemerintah dapat disalurkan secara tepat tanpa menimbulkan persoalan hukum.
“Jika tanah kas desa dikelola secara produktif dan legal, maka program pemerintah bisa diarahkan ke lokasi tersebut tanpa risiko temuan. Hal ini penting agar dukungan anggaran bisa berjalan lancar,” ujar Andriana.
Ia juga menambahkan bahwa kondisi geografis Margoluwih sangat mendukung untuk pertanian tropis, khususnya buah nanas karena intensitas sinar matahari yang cukup optimal.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Ir. Syam Arjayanti, M.P.A., mengungkapkan bahwa jumlah petani milenial aktif di DIY saat ini mencapai sekitar 3.000 orang. Namun, mayoritas dari mereka belum tergabung dalam kelompok tani resmi sehingga belum sepenuhnya terjangkau oleh program bantuan pemerintah.
“Petani milenial umumnya bergerak sendiri dan masih kesulitan dalam hal akses bibit terutama untuk tanaman seperti jamur. Pelatihan dan dukungan modal usaha akan sangat membantu perkembangan mereka,” jelas Syam.
Dalam kesempatan yang sama, Lurah Margoluwih menyampaikan kesiapan desa untuk mendukung penuh inisiatif warganya. Ia menyebut pengembangan Kampung Nanas “Amargo Luwih” sebagai potensi lokal yang bisa menjadi identitas pertanian desa.
“Kami mendukung pengembangan Kampung Nanas Amargo Luwih sebagai potensi lokal yang bisa diangkat,” ujarnya. (uns/vjn)

Leave a Reply