Sleman, dprd-diy.go.id — Di tengah keterbatasan lahan, Kelompok Wanita Tani (KWT) Dewi Sri Kentungan, Condongcatur, Depok, Sleman mampu menghadirkan inovasi pertanian perkotaan (urban farming) yang produktif dan berkelanjutan. Upaya kreatif ini mendapat perhatian Komisi B DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta yang melakukan kunjungan kerja pada Rabu (29/10/2025) untuk meninjau langsung potensi serta mendorong penguatan pemberdayaan masyarakat berbasis perempuan.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua KWT Dewi Sri, Sulistiyani, memaparkan perjalanan kelompok yang telah berdiri selama tiga tahun dan kini beranggotakan 39 orang dari 11 RT di Padukuhan Kentungan. Ia menyebut, kelompoknya terus berinovasi dengan budidaya sayuran, ikan lele hingga pengolahan pupuk organik meski menghadapi sejumlah kendala.
“Kami berupaya memanfaatkan lahan sempit agar tetap produktif. Namun kendala terbesar kami adalah keterbatasan sumber air, sehingga kualitas tanaman belum bisa maksimal,” ungkap Sulistiyani.
Menanggapi kondisi tersebut, Carik Condongcatur, Riska Dian Nur Lestari, menjelaskan bahwa permasalahan serupa juga dialami oleh sejumlah kelompok wanita tani lainnya di wilayahnya. Ia menyebut terdapat 18 KWT aktif yang rata-rata menggarap lahan kurang dari 1.000 meter persegi.
“Kami ingin para KWT di Condongcatur bisa lebih mandiri. Dengan dukungan teknologi pertanian modern seperti hidroponik dan sistem irigasi efisien, produktivitas pasti akan meningkat,” tutur Riska.
Sementara itu, Ketua Komisi B DPRD DIY, Andriana Wulandari, S.E., M.IP., memberikan apresiasi terhadap semangat dan kemandirian anggota KWT Dewi Sri. Menurutnya, kelompok ini menjadi contoh nyata bagaimana perempuan dapat berperan aktif dalam memperkuat sektor pertanian di daerah.
“KWT Dewi Sri menunjukkan bahwa perempuan punya peran strategis dalam pertanian. Komisi B akan mendorong sinergi dengan OPD terkait agar program pelatihan, pendampingan dan integrated farming bisa terus diperkuat,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa ke depan, kawasan Kentungan memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai wisata edukasi pertanian yang tidak hanya meningkatkan ekonomi warga, tetapi juga memperluas manfaat bagi masyarakat sekitar.
Dukungan serupa juga disampaikan oleh Kepala Bidang Holtikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Sigit Harjono, S.P., M.P., pihaknya menegaskan bahwa pihaknya siap berkolaborasi untuk membantu penguatan kelompok tani perempuan di wilayah perkotaan.
“Kami akan memfasilitasi kebutuhan sarana dan prasarana, serta memberikan pelatihan pemanfaatan lahan pekarangan agar produktivitas meningkat,” jelas Sigit.
Menutup kunjungan, anggota Komisi B, Ismail Ishom dan Tri Nugroho, S.E., turut menyoroti pentingnya solusi konkret terhadap keterbatasan lahan dan air. Keduanya menilai penerapan teknologi bisa menjadi kunci keberlanjutan usaha pertanian.
“Pembuatan sumur bor dan penerapan sistem hidroponik bisa menjadi langkah nyata agar kegiatan pertanian tetap berjalan meski lahan sempit,” ujar Ismail.
“Dengan inovasi seperti itu, KWT tidak hanya mandiri, tapi juga bisa menjadi contoh bagi kelompok lain di Sleman,” tambah Tri.
Melalui kunjungan ini, Komisi B menegaskan komitmennya untuk terus mendorong pemberdayaan perempuan dan mewujudkan pertanian berkelanjutan sebagai bagian dari upaya meningkatkan ekonomi masyarakat di wilayah Sleman.(cyn/dta)

Leave a Reply