Pengembangan Budaya di Masa Pandemi

Jogja, dprd-diy.go.id – Salah satu elemen masyarakat yang sangat terdampak pandemi adalah pelaku seni dan kebudayaan. Nuryadi, Ketua DPRD DIY mengatakan bahwa pelaku seni budaya ini harus diperhatikan kesejahteraannya.

“Teman pelaku seni tidak bisa berbuat (kegiatan seni budaya), mestinya dengan pentas lain masih bisa tersalurkan. Sebab ini tidak hanya sekedar hobi tapi banyak yang menggangtungkan hidupnya di sini,” lanjutnya, Jumat (13/08/2021).

Menurut Nuryadi, pemerintah harus memberikan perhatian lebih kepada seniman, ia khawatir banyak masyarakat yang enggan menjadi seniman karena hidup yang tidak terjamin. Ia mengatakan adanya dana keistimewaan yang diberikan kepada DIY menjadi suatu kemampuan bagi pemerintah untuk menyejahterakan para pelaku seni budaya.

Sebagai legislatif yang berwenang melakukan pengawasan, Nuryadi mengungkapkan ia berharap dana yang sudah dianggarkan dapat dilaksanakan sesuai dengan penganggarannya. Ia juga berharap agar sanggar-sanggar dapat diaktifkan kembali meskipun kini terhalang pandemi Covid-19.

“Bagaimana (pelaku seni) latihan di rumah (bisa) dapat honor. Kita sebagai orang yang mengawasi, yang terpenting pada saat anggaran diberikan digunakan sebagaimana baiknya, tidak boleh melenceng. Sehingga tidak ada seniman yang tidak dapat job, bagaimana rutinitasnya tetap ada sanggarnya,” imbuhnya.

Ketua Dewan Kebudayaan DIY, Revianto Budi Santosa melihat bahwa sejauh ini daya cipta dan kreativitas para pelaku seni masih sangat baik, namun terbatas pada interaksi. Menurutnya ketika kegiatan snei budaya membutuhkan pertemuan, maka inilah yang menjadi penghambatnya. Sehingga ketika dipaksakan dilakukan secara daring, kegiatan seni budaya akan kehilangan sense seni budayanya.

Ia menyampaikan bahwa untuk menyiasati penyaluran kegiatan seni budaya dapat dilakukan dengan dua solusi yakni melihat peluang dan diferensiasi. Menurutnya diferensiasi ini dapat dilakukan dengan melihat peluang celah yang dapat dikembangkan.

“Kalau ada festival virtual nah ini virtual jadi medianya, tapi sekarang ramai (banyak seniman). Sehingga sekarang harus butuh peran pembeda,” ungkap Revi.

Pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tertuang soal aktivitas kebudayaan. Hal ini seharusnya menjadi panduan bagi pemerintah untuk mendukung seluruh bentuk aktivitas seni budaya.

“Kalau siklus ini bisa di-support dengan eksklusif maka segala lini ini bisa (mendapatkan dukungan),” tambahnya.

Sementara Dian Lakshmi Pratiwi, Kepala Dinas Kebudayaan DIY menyampaikan bahwa kondisi saat ini justru mendorong pihaknya melakukan review program dan kegiatan. Beberapa program dan kegiatan bahkan harus dilakukan redesign untuk menyesuaikan situasi dan kondisi saat ini.

“Beberapa redesign kegiatan berubah menjadi daring atau dengan metode hybrid, beberapa kita mainkan kreasinya. Ada banyak kreasi yang kami lakukan, tapi tetap ada tahapannya,” jelas Dian.

Ia melihat pada situasi saat ini kesehatan adalah dasar yang paling utama dimiliki oleh para seniman. Pihaknya berprinsip agar para seniman dapat berkreasi dangan aman dan nyaman, sehingga Dinas Kebudayaan melakukan percepatan vaksinasi di kalangan seniman.

“Kita berfikir keberlangsungan seniman di Jogja berawal dari kesehatan, kita siapkan vaksinasi seniman-budayawan termasuk keluarga dan kerabatnya. Prinsip kami bagaimana teman seniman bisa berkreasi dengan aman dan nyaman,” ungkapnya.

Selanjutnya pada keadaan darurat, ketika para seniman sudah tidak dapat beraktivitas maka Dinas Kebudayaan menggunakan konsep gotong-royong dalam memberikan bantuan.

“Kita siapkan beberapa paket ini, kita berikan untuk teman pelaku seni dan budaya. Data sejak awal tahun 2020 (awal pandemi) sudah dikasih data,” imbuhnya.

Revi menambahkan bahwa dukungan dan inovasi sangat penting dalam pengembangan budaya terutama di masa saat ini. Ia mengatakan pentingnya peran pemerintah dan kesadaran masyarakat dalam pengembangan budaya.

“Pemerintah harus responsif gali apa yang berkembang di masyarakat. Sehingga masyarakat juga bukan menjadi objek yang pasif. Masyarakat juga diharapkan bisa menemukan pemaknaan yang lain. Komunikasi terus-menerus yang perlu dijaga,” terang Revi. (fda)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*