Sleman, dprd-diy.go.id – Komisi B DPRD DIY melakukan kunjungan lapangan ke Desa Prima Wonokerto Mandiri, Kalurahan Wonokerto, Kapanewon Turi, , guna menyerap aspirasi sekaligus meninjau langsung perkembangan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat. Kunjungan ini menyoroti tantangan efisiensi anggaran dan perlunya penguatan dukungan terhadap produk lokal berbasis potensi salak, pada hari Rabu (11/2/2026).
Ketua UMKM Wonokerto, Siti Mubarokah, menjelaskan bahwa forum UMKM yang berdiri sejak 2019 tersebut kini menaungi sekitar 80 anggota. Dari tangan para pelaku usaha ini, lahir sedikitnya 25 produk olahan salak, mulai dari manisan, dodol, hingga olahan inovatif lainnya.
“Manisan salak kami sudah dipasarkan ke luar daerah, bahkan pernah mengikuti pameran di Hongkong dan Taiwan. Ini membuktikan bahwa produk lokal Wonokerto memiliki daya saing,” ujar Siti.
Meski demikian, ia mengungkapkan sejumlah kendala yang masih dihadapi pelaku UMKM, terutama dalam aspek perizinan. Proses pengurusan BPOM serta sistem Online Single Submission (OSS) dinilai belum terintegrasi secara optimal dengan Dinas Kesehatan, sehingga memperlambat legalitas produk.
“Kami berharap dapat difasilitasi terkait perizinan, khususnya BPOM, serta ada integrasi sistem OSS dengan Dinas Kesehatan agar prosesnya lebih sederhana dan tidak berbelit. Selain itu, kami juga ingin dilibatkan dalam program MBG agar produk dan tenaga kerja lokal dapat diberdayakan,” tegasnya.
Tantangan lain yang dirasakan UMKM Wonokerto adalah dampak efisiensi anggaran dan menurunnya daya beli masyarakat. Kondisi tersebut berpengaruh pada penurunan volume penjualan dan terbatasnya ruang promosi. Di sisi lain, pelaku UMKM juga mengakui masih adanya keterbatasan dalam digitalisasi pemasaran, termasuk akses ke marketplace dan e-katalog pemerintah.
Menanggapi hal tersebut, perwakilan Dinas Koperasi dan UMKM Sleman menyampaikan bahwa pihaknya tetap berupaya memberikan dukungan promosi melalui berbagai pameran dan pemanfaatan platform digital, salah satunya aplikasi Sleman Mart.
“Kami terus mendorong UMKM untuk masuk ke ekosistem digital. Melalui Sleman Mart dan fasilitasi pameran, kami berharap jangkauan pasar produk Wonokerto semakin luas,” jelasnya.
Sementara itu, Komisi B DPRD DIY menegaskan komitmennya untuk menindaklanjuti berbagai aspirasi yang disampaikan. Penguatan UMKM dinilai menjadi kunci menjaga ketahanan ekonomi masyarakat di tengah tantangan efisiensi anggaran.
“UMKM adalah tulang punggung perekonomian lokal. Aspirasi terkait perizinan, digitalisasi, hingga keterlibatan dalam program pemerintah akan kami dorong agar mendapat perhatian serius,” ungkap perwakilan Komisi B.
Dengan potensi 25 produk olahan salak yang telah menembus pasar luar daerah hingga mancanegara, Wonokerto dinilai memiliki modal kuat untuk berkembang. Dukungan kebijakan, kemudahan perizinan, serta perluasan akses pasar diharapkan mampu memperkuat daya saing UMKM lokal dan menjadikannya motor penggerak ekonomi berbasis potensi desa. (tag/uns)

Leave a Reply