Bantul, dprd-diy.go.id – Konsep culturepreneur atau kewirausahaan berbasis budaya dinilai menjadi penguat integrasi budaya dan pariwisata dalam pengembangan Museum Tani Jawa Indonesia di Desa Wisata Candran, Kebonagung, Bantul, Kamis (30/4/2026). Komisi D DPRD DIY melihat pendekatan ini penting agar museum tidak hanya berfungsi sebagai ruang edukasi, tetapi juga mampu mendorong pemberdayaan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi desa.
Museum Tani Jawa Indonesia yang berdiri sejak 2005 ini dinilai memiliki potensi besar sebagai pusat edukasi sekaligus penggerak ekonomi berbasis budaya. Museum tematik ini mengoleksi lebih dari 600 alat pertanian tradisional dan menjadi destinasi edukasi bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Berbagai kegiatan seperti lomba tanam padi, festival memedi sawah, hingga pertunjukan seni tradisional turut memperkuat daya tarik wisata berbasis budaya agraris.
Ketua Komisi D DPRD DIY, Dr.R.B. Dwi Wahyu B., S.Pd., M.Si., menilai aktivitas di Museum Tani Jawa sudah berjalan baik dan memiliki daya tarik tersendiri. Namun, ia menyoroti belum selarasnya kelembagaan di tingkat kalurahan dalam mengintegrasikan konsep wisata budaya dan kalurahan budaya.
“Kami melihat aktivitas di Museum Tani Jawa sudah sangat baik dan menarik bagi pengunjung. Namun, masih ada hal yang perlu disikapi bersama, terutama belum selarasnya kelembagaan di tingkat kalurahan antara wisata budaya dan kalurahan budaya,” ujarnya.
Ia menambahkan, selama ini budaya lebih banyak dipahami sebagai nilai atau identitas yang dilestarikan. Padahal, dalam konteks pariwisata, budaya juga perlu diposisikan sebagai produk yang mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
“Budaya tidak hanya sebagai nilai, tetapi juga harus menjadi produk. Titik temunya adalah pemberdayaan masyarakat melalui wisata budaya,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Museum Tani Jawa, Kristya Mintarja, S.Pd., M.Ed.St., menyambut baik perhatian dan dukungan dari Komisi D DPRD DIY. Ia menekankan pentingnya pengembangan kewirausahaan berbasis budaya atau culturepreneur sebagai langkah strategis dalam mengintegrasikan nilai dan produk budaya.
“Kami mengucapkan terima kasih atas kunjungan dan perhatian Komisi D. Kami berharap ada dorongan untuk mengembangkan kewirausahaan berbasis budaya atau culturepreneur,” ungkapnya.
Menurutnya, konsep culturepreneur menjadi kunci dalam menarik minat generasi muda untuk mencintai sekaligus mengembangkan budaya. Budaya tidak hanya diwariskan sebagai nilai, tetapi juga harus mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Konsep ini penting agar generasi muda tidak hanya mencintai budaya, tetapi juga mampu mengembangkannya. Kami berharap Yogyakarta dapat menginisiasi pengembangan culturepreneur dengan dukungan Komisi D dan pemerintah daerah,” lanjutnya.
Sebagai daerah yang dikenal sebagai kota pendidikan, budaya, dan pariwisata, Yogyakarta dinilai memiliki peluang besar dalam mengembangkan ekosistem kewirausahaan berbasis budaya. Tingginya kunjungan wisatawan setiap akhir pekan menjadi potensi yang perlu diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia, khususnya dalam mengelola potensi ekonomi berbasis desa.
Dengan potensi sektor pertanian, peternakan, dan perikanan yang melimpah, Museum Tani Jawa diharapkan mampu menjadi model pengembangan wisata edukatif yang tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga pengetahuan. Integrasi antara nilai budaya dan produk wisata diyakini menjadi kunci dalam menciptakan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan budaya lokal. (dta/lz)

Leave a Reply