Bantul, dprd-diy.go.id – Wakil Ketua Komisi B DPRD DIY, Danang Wahyu Broto, bersama jajaran Komisi B DPRD DIY meninjau “Kampus Tani” di Kalurahan Patalan, Kapanewon Jetis, Bantul, Selasa (13/5/2026). Kunjungan tersebut dilakukan untuk mendengar langsung berbagai kendala yang dihadapi pengelola, khususnya terkait keterbatasan pendanaan dalam pengembangan kawasan pertanian edukatif berbasis masyarakat.
Kampus tani yang dirintis sejak 2020 itu awalnya berkembang melalui program “Jogja Anggur” sebelum kemudian menjadi pusat pembelajaran pertanian terpadu dengan konsep agroforestri. Berbagai jenis tanaman buah seperti alpukat, lengkeng, dan anggur dibudidayakan sekaligus menjadi sarana edukasi bagi masyarakat.
“Ini bukan sekadar kebun, tapi perpustakaan hidup. Kalau orang kota datang membaca buku, di sini pohon yang bicara. Alpukat 134, lengkeng, anggur, semua sudah dicoba dan didokumentasikan mana yang cocok di lereng Kaliurang,” ujar pengelola kampus tani.
Pengelola menjelaskan, sejak mendapat dukungan dari dinas terkait, kampus tani telah mendistribusikan sekitar 2.225 bibit lengkeng kepada masyarakat. Program tersebut juga melibatkan akademisi UGM, praktisi pertanian, serta tokoh masyarakat dalam pendampingan sosial dan pengembangan teknologi pertanian.
Selain itu, kampus tani turut mendukung program nasional melalui pengembangan plasma nutfah berbasis kultur embrio bersama Dinas Pertanian DIY dan BPJS. Lahan yang dimanfaatkan meliputi tanah kas desa hingga lahan di luar kawasan hutan.
Menanggapi hal tersebut, Danang Wahyu Broto mengapresiasi langkah pemberdayaan masyarakat yang dilakukan pengelola kampus tani. Menurutnya, konsep yang dikembangkan memiliki potensi besar untuk mendukung sektor pertanian sekaligus wisata edukasi di DIY.
“Kami telah melihat langsung pemberdayaan masyarakat yang luar biasa di sini, khususnya di bidang pertanian dan wisata edukasi. Unggulannya adalah kualitas bibit kelapa kopyor dari proses stek embrio yang menghasilkan bibit buah berkualitas. Ini menjadi nilai tambah bagi petani kita,” kata Danang.
Ia juga mendorong terciptanya sistem integrated farming yang efektif dan efisien agar pengembangan kampus tani dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan.
Sementara itu, pengelola berharap DPRD DIY maupun Pemda Bantul dapat memberikan dukungan berupa payung hukum dan akses pendanaan, termasuk melalui dana keistimewaan, guna memperkuat pengembangan teknologi ketahanan pangan berbasis tanaman.
“Kami ingin ini jadi referensi pemanfaatan lahan 24.000 hektar di Bantul. Harapannya desa kampus ini bisa jadi tempat sinau bareng, bahkan menambah lama kunjungan wisatawan di Jogja,” ungkap pengelola.
Selain dukungan anggaran, pengelola juga menyoroti perlunya perbaikan akses jalan serta penataan bantaran sungai di kawasan tersebut agar lebih layak dikembangkan menjadi kawasan wisata edukasi pertanian. (fn/cc)

Leave a Reply