Bank Sampah di DIY Berkontribusi Turunkan Penumpukan Sampah

Jogja, dprd-diy.go.id – Komisi C melakukan monitoring ke Bank Sampah IGAKANAS Panggungharjo Bantul dan TPS 3R Brama Muda Ngaglik Sleman pada Rabu (08/07/2020). Komisi C yang membidangi soal pembangunan ini ingin meninjau kelompok pengelola sampah untuk mengetahui progres dan kendala yang dihadapi terutama terkait dampak Covid-19.

Bank Sampah IGAKANAS Panggungharjo

Saat mendatangi Bank Sampah IGAKANAS, pembina bank sampah setempat, Agus menjelaskan bahwa Bank Sampah IGAKANAS merupakan bank sampah desa terbesar yang ada di DIY. Penjualan dari sampah di tempat ini mencapai 650 kilogram per bulan.

Agus mengungkapkan bahwa TPS 3R bekerjasama dengan BUMDes dalam hal pemasaran dari hasil produksi Bank Sampah IGAKANAS. BUMDes Panggungharjo ini berfungsi sebagai penjamin pasar dari 58 bank sampah yang ada di Desa Panggungharjo.

“Di sini kita bekerjasama dengan BUMDes yang berfungsi sebagai tempat menjual atau penjamin pasar dari 58 bank sampah yang ada di Panggungharjo. BUMDes ini menerima apapun yang diproduksi oleh bank sampah kemudian dibantu pemasarannya,” ungkap Agus.

Menurut Agus, kegiatan bank sampah ini berkontribusi dalam mengurangi penumpukan sampah yang ada di DIY. Bank Sampah IGAKANAS mampu mereduksi sampah hingga 11,4% dan mengumpulkan 50% dari total sampah yang dihasilkan.

“Terkait peran bank sampah mengurangi sampah. Hal lainnya dari masalah kita sampah oraganik itu. Ini bisa direduksi jadi pupuk organik. Kita belajar bareng dan pengerjaannya cukup murah,” tambahnya.

Sementara terkait dengan kendala pada masa pandemi ini, Agus mengungkapkan bahwa pekerja yang memilah sampah ini sangat riskan tertular Covid-19. Oleh karenanya, bank sampah ini sudah mendapatkan beberapa bantuan APD yang sangat penting sebagai perlindungan diri.

Ketua Bank Sampah IGAKANAS, Yuli Pratiwi mengungkapkan bahwa sejak awal masa pandemi, Bank Sampah IGAKANAS tetap melayani masyarakat yang ingin menabung dan terus memproduksi. Hal tersebut tentunya dilakukan dengan memerhatikan protokol kesehatan Covid-19 juga dengan APD yang mumpuni.

“Sejak bulan Maret itu kita mulai seret tapi kita tetap melayani masyarakat yang mau menabung, tentu kami lakukan dengan kehati-hatian. Mohon dukungan dan doanya agar kami bisa terus berkarya dan bisa mengatasi segala masalah serta aman dari Covid-19,” tuturnya.

Gimmy Rusdin, Wakil Ketua Komisi C menyampaikan apresiasinya kepada para pengelola Bank Sampah IGAKANAS ini. Gimmy berharap bank sampah ini dapat menjadi percontohan bank sampah yang ada di Indonesia.

Melihat pendapatan yang didapat pengelola bank sampah, Gimmy mengatakan bahwa bank sampah juga berperan dalam mengurangi angka pengangguran. Menurutnya, perekrutan orang-orang yang kini tengah dilanda kesulitan dapat dilakukan dalam rangka meningkatkan taraf hidup melalui bank sampah ini.

“Ini sangat bagus ya, gimana caranya agar bank sampah bisa maju dan menghasilkan. Karena ini bisa buat penghasilan orang sekitar sekaligus dalam rangka pengurangan sampah di DIY,” tutur Gimmy.

Kepala DLHK DIY, Sutarto juga mengungkapkan apresiasinya terhadap bank sampah yang masuk dalam ranking 4 di DIY. Menurutnya bank sampah ini telah banyak berkontribusi dalam mengurangi beban TPA yang ada di DIY.

TPS 3R Brama Muda Ngaglik

Komisi C melanjutkan kunjungan ke TPS 3R Brama Muda Ngaglik Sleman. Ditemui oleh Sutarjo Wakil Ketua KSM Brama Muda, pertemuan dilaksanakan langsung di kantor TPS 3R ini.

Sutarjo mengungkapkan bahwa TPS Brama Muda didirikan sejak Desember 2017. Menurutnya dalam waktu satu tahun TPS Brama Muda sudah mampu menghasilkan rata-rata 680 kilogram sampah per hari dari 318 pelanggan.

Menurut Sutarjo, sampah-sampah yang dipilah baik organik maupun anorganik mampu menghasilkan rata-rata 500 kilogram setiap bulan dengan harga jual Rp 1.000,- per kilogramnya. Hingga saat ini TPS Brama Muda sudah mampu memberikan gaji pengelola sebesar Rp 1.500.000,- dari yang awalnya hanya Rp 600.000,- per bulannya.

Sutarjo bersyukur TPS Brama Muda dikelola oleh banyak pihak yang peduli dengan sampah dan lingkungan. Sekelompok pemuda yang juga menjadi inisiator perintis bank sampah ini juga masih aktif berkontribusi hingga saat ini.

“Apa yang kita dapat sampai saat ini itu tidak lepas dari kerja keras banyak pihak. Ada organisasi pemuda yang merintis ini juga sangat aktif sampai sekarang. Karena ya mengelola sampah itu tidak mudah, jarang ada yang mau. Kita sangat bersyukur TPS Brama Muda juga diisi oleh orang-orang yang mau kerja keras, bahkan anak muda mau ikut,” ungkapnya.

Kepada Kepala Dinas DLHK DIY, Gimmy meminta agar DLHK DIY terus mengupayakan perkembangan bank sampah yang ada di DIY. Pasa masa pandemi ini, sosialisasi juga perlu dilakukan kepada para pengelola bank sampah untuk tetap menggunakan APD dan mengikuti protokol kesehatan saat menjalankan aktivitasnya.

Gimmy juga meminta agar perhatian dari pemerintah dapat merata kepada seluruh pengelola bank sampah dan TPS 3R. Gimmy meminta agar pada saat perubahan APBD DIY 2020 hal ini dapat menjadi urgensi di dalamnya.

“Apalagi selama Covid-19, tetap disarankan dan diabantu APD-nya, agar usaha tetap jalan. Mohon untuk perubahan (APBD DIY) diperhatikan hal yang taktis tapi mengena ke masyarakat. Dari hal kecil-kecil ini (membantu bank sampah) sangat berguna. Mohon juga petakan bantuan kepada bank sampah sesuai kebutuhannya,” ungkapnya.

Sutarto mengatakan di DIY ada 1037 bank sampah. Secara umum total pengurangan sampah di DIY masih kurang dari 25 persen. Sutarto berharap ke depannya bank sampah yang masih ada di belakang dapat berkembang agar bisa mencapai angka 25-30 persen pengurangan sampah di DIY.

“Secara total pengurangan sampah memang belum sampai 25 persen se-DIY. Harapannya besok bisa sampai 25-30 persen indikatornya. Bank sampah DIY total ada 1037, di bantul ada 130, kondisinya beda beda. Terimakasih DPRD sudah hadir, kasih motivasi ke kami. Kembali gugah para pelaku bank sampah yang masih belum maju,” ungkapnya. (fda)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*