Bantul, dprd-diy.go.id – Komisi B DPRD DIY melakukan peninjauan lapangan ke Desa Wisata Kerajinan Kulit Manding, Kabupaten Bantul, pada Selasa (22/7/2025), untuk melihat secara langsung perkembangan Industri Kecil Menengah (IKM) di sektor kerajinan kulit. Kunjungan ini menandai komitmen serius legislatif dalam mendorong Manding menjadi sentra industri kreatif kulit berskala nasional dan internasional.
Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah sentra produksi Roosman Leather, yang telah berhasil menembus pasar ekspor di Asia, khususnya Singapura dan Malaysia. Produk Roosman dikenal memiliki keunggulan pada teknik jahitan tangan, yang dinilai lebih diminati pasar luar negeri dibanding hasil mesin. Selain ekspor, usaha ini juga aktif mengikuti berbagai pameran nasional, termasuk di Jakarta.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua Komisi B, Dr. Danang Wahyu Broto, S.E., M.Si., menekankan pentingnya kolaborasi antara pelaku usaha dan lembaga pendukung teknologi untuk mempercepat proses produksi sekaligus menjaga kualitas. Ia menyoroti peran strategis Balai Kulit sebagai pusat pengembangan teknologi tepat guna.
“Peran balai kulit itu tidak hanya untuk inovasi contoh produk, tetapi juga bisa mengerjakan dan mempercepat proses produksi,” tegas Danang.
Komisi B juga meninjau gedung NKJ (Ndalem Kulit Jogja), yang selama ini menjadi ruang inkubasi produksi dan promosi. Danang mengusulkan agar potensi ruang podcast yang telah tersedia di NKJ dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk promosi digital.
“Ruang podcast bisa dimanfaatkan untuk mempromosikan, memperkenalkan produk. Ini akan menjadi media komunikasi yang menarik, terutama untuk menjangkau pasar digital,” jelasnya.
Ia juga mendorong pelaku IKM untuk terus berinovasi, tidak hanya pada desain dan bahan, tetapi juga pada strategi pemasaran berbasis teknologi digital agar produk Manding bisa bersaing di pasar yang lebih luas.
“Kita harus berani memanfaatkan teknologi promosi dan pemasaran digital. Jangan hanya bergantung pada pasar wisatawan lokal. Kita harus punya jangkauan global,” tambahnya.
Sekretaris Komisi B, Wildan Nafis, S.E., M.H., menekankan pentingnya pemanfaatan peralatan modern yang telah tersedia di sentra Manding. Ia menyebut pengembangan IKM Manding tak bisa hanya bergantung pada wisatawan lokal.
“Kita harus memiliki pemahaman bersama bahwa alat-alat modern ini perlu dimanfaatkan secara optimal. Kalau ingin berkembang, kita harus punya target pasar yang lebih besar,” tegas Wildan.
Anggota Komisi B, Reda Refitra Safitrianto, menutup dengan menegaskan dukungan penuh legislatif terhadap pelaku IKM. Ia juga menyarankan adanya inovasi bahan baku untuk meningkatkan kualitas produk.
“Komisi B sepenuhnya mendukung IKM. Apapun kesulitan dan kebutuhan pelaku usaha bisa disampaikan ke kami. Dan ke depan, inovasi bahan premium penting untuk meningkatkan daya saing,” ucap Reda.
Ia juga mendorong pelaku usaha untuk mulai bekerja sama dengan influencer guna memperluas jangkauan promosi secara digital.
Kunjungan ini mempertegas komitmen Komisi B DPRD DIY dalam mendukung pertumbuhan industri kerajinan kulit di Manding. Dukungan terhadap inovasi, pemasaran digital, dan perluasan pasar diharapkan mampu membawa Manding sebagai salah satu pusat industri kerajinan kulit yang berdaya saing tinggi. (adl/lz)

Leave a Reply