Bantul, dprd-diy.go.id – Komisi D melakukan kunjungan kerja ke SLB Bina Siwi Pajangan, Kabupaten Bantul, Jumat (29/8/2025). Kunjungan ini dipimpin langsung oleh Ketua Komisi D, R.B. Dwi Wahyu B., S.Pd., M.Si., bersama jajaran anggota, dalam rangka monitoring terkait peran keluarga sebagai fondasi kemandirian anak berkebutuhan khusus (ABK).
Kepala Sekolah SLB Bina Siwi Pajangan, Mugiyanti, S.Pd., M.Pd., memaparkan berbagai program yang telah dijalankan pihak sekolah. Menurutnya, selain pembelajaran akademik, siswa juga dibekali keterampilan hidup (life skill) serta wadah untuk berekspresi.
“Anak-anak kami kami ajarkan life skill seperti mencuci piring, membuat produk sederhana, hingga menampilkan bakat seni. Kami juga memiliki drumband yang pernah tampil di hadapan Bupati Bantul pada Apel Pramuka yang diikuti 3.000 peserta. Bahkan, setiap 17 Agustus anak-anak kami selalu dipercaya tampil,” jelas Mugiyanti.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa sekolah bercita-cita memiliki seperangkat alat gamelan sebagai media terapi sekaligus sarana melestarikan budaya Yogyakarta.
“Anak-anak sering bertanya kapan bisa bermain gamelan. Kami berharap pemerintah bisa memfasilitasi, sebab gamelan bisa menjadi terapi yang sangat baik bagi mereka,” tambahnya.
Subkoordinator Kurikulum Peserta Didik Bidang Pendidikan Khusus Dikpora DIY, Suryanto, S.Pd., M.Pd., menekankan pentingnya dukungan berbagai pihak dalam mengembangkan potensi ABK.
“Anak-anak istimewa ini punya talenta yang luar biasa. Perlu ada program berkesinambungan agar bakat mereka tidak hanya tumbuh di sekolah, tetapi juga mendapat pengakuan masyarakat,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua Komisi D DPRD DIY, R.B. Dwi Wahyu B., S.Pd., M.Si., mengapresiasi upaya SLB Bina Siwi. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor agar pendidikan anak berkebutuhan khusus lebih terpadu.
“Kami menyadari banyak keterbatasan yang masih dihadapi, mulai dari fasilitas hingga sarana seni seperti gamelan. Tetapi dengan komunikasi yang baik antara sekolah, pemerintah daerah, dan masyarakat, berbagai kendala bisa kita atasi bersama. Kami juga mendorong adanya pelatihan keterampilan seperti kuliner, karena pasar produk lokal di Bantul cukup besar untuk menampung karya anak-anak kita,” ujar Dwi Wahyu.
Ia juga menambahkan bahwa peran keluarga tidak bisa dikesampingkan. Menurutnya Keluarga adalah fondasi kemandirian anak.
”Sekolah bisa memberikan pembelajaran, tetapi pembiasaan, dukungan, dan motivasi utama tetap lahir dari rumah. Karena itu, kami mendorong agar keluarga semakin aktif mendampingi,” tegasnya.
Melalui kunjungan ini, Komisi D DPRD DIY berharap sinergi lintas instansi dapat memperkuat fasilitas pendidikan khusus, mengoptimalkan peran keluarga, sekaligus membuka ruang lebih luas bagi ABK untuk berkarya dan mandiri. (tsa/cc)

Leave a Reply