Sleman, dprd-diy.go.id – Komisi B DPRD DIY melakukan kunjungan kerja dalam daerah ke Kelompok Wanita Tani (KWT) Srikandi, Mrican, Caturtunggal, Depok, Sleman, Selasa (9/9/2025). Kunjungan ini bertujuan untuk meninjau secara langsung potensi pertanian perkotaan sekaligus mendengar aspirasi kelompok yang menjadi pionir KWT di wilayah Caturtunggal.
Dalam sambutannya, Ketua Komisi B DPRD DIY, Andriana Wulandari, S.E., M.I.P., menyampaikan bahwa keberadaan KWT seperti KWT Srikandi memiliki peran strategis dalam menopang ketahanan pangan sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat.
“Kami ingin mendengar langsung permasalahan di lapangan. KWT bukan hanya sekadar kelompok tani, tapi wadah bagi warga, khususnya perempuan, untuk berdaya dan menyejahterakan keluarga. Semoga KWT Srikandi bisa menjadi contoh bagi KWT lainnya di DIY,” ujar Ndari.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua DPRD DIY, Budi Waljiman, S.H., M.H., menambahkan bahwa ketahanan pangan menjadi isu fundamental yang perlu terus diperkuat. Ia menekankan agar KWT tidak hanya terjebak pada prestasi lomba, tetapi fokus pada hasil nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Slogan KWT Srikandi maju tanpa menunggu sangat luar biasa. Namun jangan berhenti di sini. Ada peluang besar dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang nilainya mencapai Rp2,5 triliun per tahun. KWT harus mengambil peran agar manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat DIY,” jelasnya.
Raden Bambang Dwi Witjaksono dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY yang turut hadir memberikan apresiasi kepada KWT Srikandi yang sudah berdiri sejak 2011. Meski bantuan dari pemerintah baru mengalir pada 2019, KWT ini mampu bertahan bahkan berkembang melalui kerja sama dengan berbagai pihak seperti UGM dan BRI.
“KWT Srikandi sudah menjadi contoh integrated farming dengan komoditas sayur, ikan, hingga ayam. Harapannya bisa memenuhi kebutuhan dapur MBG maupun konsumsi masyarakat,” terang perwakilan dinas.
Kepala Dukuh Mrican, Sumarji, menuturkan bahwa KWT Srikandi awalnya dibangun dari keterbatasan namun mampu berkembang berkat kegigihan anggotanya. Dengan anggota lebih dari 50 orang dari 25 RT, kelompok ini berhasil menanam berbagai komoditas dataran tinggi hingga menjadi lokasi kunjungan rutin mahasiswa dan perguruan tinggi. KWT juga mulai mengembangkan unit usaha kuliner dan bercita-cita membuka Warung KWT Srikandi di sekitar kampus.
Diakhir diskusi, Andriana kembali menekankan pentingnya penguatan kapasitas anggota melalui pelatihan, digitalisasi pemasaran, serta pengolahan hasil panen menjadi produk bernilai tambah.
“Jangan hanya menjual sayur mentah, tetapi bagaimana mengolahnya menjadi produk siap makan yang bernilai ekonomi lebih tinggi. Edukasi, kolaborasi dengan kampus, hingga paket pembelajaran bagi mahasiswa yang berkunjung bisa menjadi peluang tambahan,” katanya.
KWT Srikandi hingga kini telah menorehkan banyak prestasi, di antaranya Juara 1 lomba P2B tingkat Kabupaten Sleman, Juara 2 tingkat DIY, hingga menjadi perwakilan Sleman pada upacara di Monas. Namun bagi KWT, tujuan utama tetaplah memberi manfaat nyata bagi masyarakat sekitar. (cc/lz)

Leave a Reply