Surabaya, dprd-diy.go.id – Pada Senin (18/10/2021) Komisi A DPRD DIY membersamai wartawan unit Sekretariat DPRD DIY menyambangi Badan Penanggulangan Bencana (BPB) dan Perlindungan Masyarakat Kota Surabaya. Kedatangan ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan press tour sekaligus mencari tahu mengenai penanganan Covid-19 di Kota Surabaya.
Suwardi selaku Wakil Ketua Komisi A menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan rombongan dari DPRD DIY. Ia menyampaikan bahwa Kota Surabaya dalam menangani kasus Covid-19 tergolong cepat dan tanggap. Menurutnya kasus Covid-19 di Kota Surabaya telah melandai, bahkan saat ini Kota Surabaya berada pada level 2 PPKM.
“Kita lihat capaian (Kota Surabaya) dalam menangani Covid-19 ini bagus. Kita mau tahun ini bagaimana?” ungkap Suwardi.
Sementara hal tersebut dikatakan Suwardi berkebalikan dengan kondisi kasus Covid-19 di DIY yang kini semakin meningkat dan tidak kunjung turun level dari PPKM level 3. Di Kota Surabaya sendiri ada 2 rumah sakit khusus, sedangkan di DIY hanya ada 1 rumah sakit khusus.
“Sementara di Jogja ini tanggal 17 kemarin terbaru DIY masih ada 15 kasus. Kami dalam meninjau kasus Covid-19 juga bekerjasama dengan media,” tambahnya.
Yusuf Masruh, Sekretaris BPB dan Perlindungan Masyarakat Kota Surabaya menjelaskan bahwa dalam penanganan Covid-19 di Kota Surabaya, seluruh stafnya dikerahkan untuk membantu di tingkat kecamatan, khususnya untuk melakukan tracing.
Kota Surabaya memiliki Kampung Wani, yaitu sebuah inisiatif Kota Surabaya dalam membentuk kampung yang tanggap dalam pencegahan dan penanganan Covid-19. Menurut Yusuf, pendekatan dengan cara ini lebih efektif karena yang mengingatkan dan memantau adalah dari warga untuk warga.
“Kita dibantu Kampung Wani, bentukan dari kota (Surabaya) yang bertugas membantu penanganan Covid-19 dan yang bertanggungjawab membantu warga tracing yang dibantu staf pemerintah kota,” jelasnya.
Sejak masa PPKM darurat Jawa-Bali, Pemkot Surabaya terus melakukan evaluasi kasus Covid-19 dengan melakukan swab massal. Pemkot Surabaya juga menyediakan tempat isolasi terpadu yakni 3 hotel dan asrama haji.
Yusuf menyampaikan bahwa pelaksanaan vaksinasi di Kota Surabaya sudah mencapai 100% untuk dosis 1 dan masih dalam proses pelaksanaan vaksinasi dosis 2.
Sementara saat melakukan penertiban, jika ditemukan pelanggar protokol kesehatan maka Pemkot Surabaya langsung melakukan swab massal. Jika dari hasil swab tersebut ditemukan hasil positif, orang tersebut akan diarahkan untuk melakukan isolasi di asrama haji.
“Kita rutin lakukan assignment. Penertiban di masyarakat sangat rutin. Untuk operasi selama ini kadang ditemukan yang susah pakai masker. Soal assignment sangat gencar kalau malam, kalau menemukan (pelanggaran) langsung diswab langsung masuk asrama haji (jika positif lalu isolasi),” tambahnya.
Beberapa waktu lalu, Pemkot Surabaya bahkan melakukan sanksi sosial seperti membantu membagikan makanan hingga tour pemulasaran jenazah. Hal tersebut dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya melaksanakan protokol kesehatan bagi para pelanggar.
Terkait pembukaan tempat wisata, Yusuf mengakui bahwa Pemkot Surabaya mennghendaki untuk dibuka kembali. Sebab menurutnya untuk menciptakan perputaran ekonomi, tempat wisata dan mall hendaknya dibuka dengan mengedepankan protokol kesehatan.
“Kembali ke mengingatkan tadi pelaksanaan prokes. Untuk mall dan sebagainya kita set untuk patuh (prokes). Tidak boleh ditutup (pariwisata) karena untuk ada perputaran ekonomi, hanya yang perlu digencarkan Wali Kota adalah penerapan prokesnya,” imbuhnya.
Suwardi menyampaikan apresiasinya kepada Pemerintah Kota Surabaya yang tanggap dan cepat dalam penanganan Covid-19 di Kota Surabaya. Menurutnya apa yang sudah dilakukan di Kota Surabaya dapat didopsi di DIY untuk melakukan percepatan penaganan Covid-19.
“Kita apresiasi langkah penanggulangan Covid-19 (di Surabaya) dengan cekatan dan paripurna,” ungkap Suwardi. (fda)

Leave a Reply