Komisi B Dorong Pelestarian dan Penguatan Wisata Geologi Lava Bantal

Sleman, dprd-diy.go.id – Komisi B DPRD DIY melakukan kunjungan kerja ke Destinasi Wisata Lava Bantal di Kalurahan Jogotirto, Kapanewon Berbah, Sleman, pada Rabu (6/8/2025). Kunjungan ini bertujuan untuk meninjau langsung potensi, menjaring aspirasi, serta mendalami berbagai kendala yang dihadapi dalam pengembangan kawasan wisata berbasis geologi tersebut.

Wakil Ketua Komisi B DPRD DIY, Dr. Danang Wahyu Broto, S.E., M.Si., menyebut Lava Bantal sebagai salah satu destinasi unggulan sekaligus situs geologi langka yang terbentuk dari letusan gunung api bawah laut yang langsung mendingin di aliran Sungai Opak.

“Destinasi ini memiliki nilai edukasi yang tinggi dan perlu mendapat perhatian khusus dalam aspek perlindungan dan pengembangan. Tidak sekadar sebagai tempat wisata, tetapi juga sebagai situs geologi yang harus dilestarikan,” ujarnya.

Ia menambahkan, pariwisata menjadi sektor penyumbang pertumbuhan ekonomi DIY hingga 66%, sehingga pengembangan destinasi wisata seperti Lava Bantal diharapkan dapat mendorong peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). 

“Kawasan ini sudah banyak mengalami perubahan sejak kunjungan DPRD terakhir pada 2015, namun perlu keterlibatan lebih banyak pihak, baik Pemda, akademisi, hingga CSR, untuk mendukung pengembangan yang berkelanjutan,” jelas Danang.

Anggota Komisi B DPRD DIY, Yan Kurnia Kustanto, S.E., menegaskan pentingnya penguatan dasar kelembagaan dan sumber daya manusia sebelum pengembangan destinasi wisata dilakukan lebih jauh. 

“Luar biasa, ini adalah potensi peristiwa alam yang tidak kita cipta. Ketika masyarakat Jogotirto menjadikan potensi ini sebagai alat kesejahteraan, maka yang harus dikuatkan terlebih dahulu adalah kelembagaan dan SDM-nya, baru menata atraksinya, aksesibilitas, lalu amenitasnya. Kalau itu semua sudah siap, pasti hasilnya akan baik,” ujarnya.

Lebih lanjut, Yan Kurnia menekankan bahwa pelestarian menjadi aspek paling mendasar karena Lava Bantal adalah fenomena geologi yang terjadi mungkin ratusan bahkan ribuan tahun lalu. 

“Menjaga keasrian dan kelestarian lingkungan menjadi hal yang utama agar situs ini tidak rusak. Kuncinya adalah kolaborasi dan komunikasi yang erat antara kelompok masyarakat, pemerintah kalurahan, kabupaten, dan juga DIY,” tambahnya.

Lurah Jogotirto, Mitha Mayasari, menyampaikan bahwa pembangunan awal kawasan Lava Bantal dimulai pada 2016 dengan berbagai aktivitas yang telah berjalan, namun pengembangan destinasi wisata masih membutuhkan dukungan lebih lanjut. 

“Kami terus berupaya memberdayakan masyarakat di sekitar kawasan agar lebih aktif terlibat dalam pengelolaan Lava Bantal,” terangnya.

Hal senada disampaikan Ulu-ulu Kalurahan Jogotirto, Maryadi, A.Md., yang memaparkan bahwa jumlah kunjungan ke Lava Bantal saat ini mengalami penurunan, baik dari wisatawan umum maupun kalangan akademisi. 

“Kunjungan peneliti yang dulunya rutin kini menurun dan belum terdokumentasikan dengan baik. Padahal, kawasan ini memiliki potensi wisata edukasi yang sangat besar,” jelasnya.

Maryadi juga menyinggung rencana pembangunan jalan penghubung ke Embung Tegaltirto dan pembentukan kelembagaan Bumkalma (Badan Usaha Milik Kalurahan Bersama) yang melibatkan tiga kalurahan; Jogotirto, Kalitirto dan Tegaltirto.

“Kendala utama saat ini adalah kekurangan SDM yang memahami manajemen wisata, sehingga diperlukan pelatihan dan penguatan kelembagaan,” tambahnya.

Dinas Pariwisata DIY yang diwakili Irfan menegaskan bahwa penguatan atraksi wisata menjadi langkah penting untuk menarik kembali minat pengunjung. 

“River tubing yang dulu sempat berjalan bisa dihidupkan kembali. Dari sisi aksesibilitas, kawasan ini sudah memadai, bahkan bus besar bisa masuk. Namun, pengelolaan kelembagaan harus lebih diperkuat agar mampu menghadapi tantangan SDM di tingkat Bumdesa,” kata Irfan.

Anggota Komisi B, Basit Sugiyanto, S.E., M.M., mengusulkan agar Lava Bantal dikembangkan dalam bentuk paket wisata terpadu bersama destinasi lain di sekitarnya, seperti Blue Lagoon, Tebing Breksi, atau Candi Prambanan. 

“Setiap desa wisata memiliki keunikan masing-masing, sehingga bila dipaketkan bisa menjadi daya tarik wisata yang lebih kuat. Kami juga melihat pentingnya regulasi berupa perda geopark untuk mendukung pengembangan desa wisata berbasis geologi,” tegasnya.

Komisi B DPRD DIY berharap kunjungan kali ini menjadi momentum untuk mendorong revitalisasi dan pengembangan Lava Bantal secara menyeluruh, dengan sinergi berbagai pihak untuk menciptakan destinasi wisata yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga sarat nilai edukasi dan kelestarian. (cc/dta)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*