Komisi B Tinjau Desa Wisata Krebet, Dorong Penguatan Pariwisata Berbasis Komunitas

Bantul, dprd-diy.go.id – Komisi B DPRD DIY melakukan kunjungan kerja ke Desa Wisata Krebet, Sendangsari, Pajangan, Bantul pada Rabu (10/9/2025). Kunjungan ini bertujuan untuk menyerap aspirasi dan mencari solusi atas kendala yang dihadapi Desa Krebet yang dikenal dengan kerajinan batik kayu.

Ketua Komisi B DPRD DIY, Andriana Wulandari, S.E., M.IP., menjelaskan bahwa kunjungan ke Krebet merupakan bagian dari program kunjungan dalam daerah. Menurutnya, Desa Wisata Krebet memiliki posisi strategis sebagai salah satu destinasi unggulan di Yogyakarta.

“Hari ini kita titikkan di Desa Wisata Krebet, Sendangsari, Pajangan, Bantul. Desa ini adalah salah satu destinasi wisata dengan prestasi luar biasa. Ketika kita kunjungan ke sini, kita ingin melihat secara riil kondisi di lapangan. Dengan potensi yang ada, kami berharap program dukungan nantinya tepat sasaran,” ujarnya.

Keunggulan Desa Wisata Krebet turut disampaikan Agus Jati Kumara, Ketua Pengelola Desa Wisata. Ia menjelaskan, desa ini telah masuk dalam 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) dan menjadi salah satu desa wisata terbaik di Indonesia.

“Pengelolaan desa wisata ini berbasis komunitas atau Community Based Tourism, yang terbukti mampu memberi kontribusi signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat. Kami melibatkan anak muda, ibu-ibu, hingga tim digitalisasi untuk terus berkembang,” jelas Agus.

Sejumlah prestasi juga telah diraih Krebet, seperti Juara 1 kategori kelembagaan dan SDM tingkat nasional, serta Juara 1 Lomba Kampung Wisata DIY. Desa ini juga aktif menjaga keberlanjutan lingkungan dengan mendirikan Bank Sampah dan mengurangi penggunaan plastik dalam penyediaan makanan dan minuman.

Namun, di balik prestasi itu, ada tantangan yang masih dihadapi. Perintis Desa Wisata Krebet dan Pengrajin Batik Kayu, Yulianto, menyampaikan bahwa desa wisata ini membutuhkan ruang pentas seni dan budaya. Permohonan alih fungsi lahan sudah diajukan, tetapi belum ada tindak lanjut.

“Masalah pertama kami adalah ketiadaan ruang pentas untuk seni dan budaya. Selain itu, akses jalan menuju Krebet masih kurang memadai, banyak yang rusak dan terlalu sempit. Kami juga menghadapi kendala birokrasi terkait perizinan tanah,” terangnya.

Merespons hal itu, Andriana menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, DPRD, dan pengelola wisata untuk mencari solusi konkret.

“Program kegiatan ke depan harus benar-benar mendukung mereka sesuai kebutuhan. Tidak hanya sebatas laporan di atas kertas, tapi kami ingin melihat secara nyata kegiatan, proses, dan aspirasi di Desa Wisata Krebet,” tegasnya.

Kunjungan ini, menurut Andriana, menjadi bagian dari upaya DPRD DIY memastikan bahwa potensi unggulan desa wisata dapat terus dikembangkan, sekaligus menjawab hambatan yang ada di lapangan.

Ia menegaskan, pengembangan pariwisata berbasis komunitas seperti Krebet penting untuk menjaga keberlanjutan ekonomi masyarakat sekaligus melestarikan budaya.

Dengan mendengar langsung aspirasi masyarakat, DPRD berharap program-program ke depan benar-benar tepat sasaran, mampu meningkatkan kesejahteraan, dan menjadikan Krebet sebagai model desa wisata yang tidak hanya berprestasi di tingkat nasional, tetapi juga berkelanjutan serta inklusif bagi seluruh masyarakat. (er/lz)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*