Monitoring JJLS Kretek–Girijati, Komisi C Soroti Dampak Lingkungan

Bantul, dprd-diy.go.id — Komisi C DPRD DIY melaksanakan Kunjungan Kerja Dalam Daerah (KDD) untuk memonitor pembangunan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) ruas Kretek–Girijati di Kabupaten Bantul pada Rabu (21/01/2026). Kunjungan ini merupakan bagian dari fungsi pengawasan DPRD DIY terhadap pembangunan infrastruktur strategis yang berdampak langsung bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.

Monitoring lapangan dilakukan untuk memastikan pembangunan JJLS berjalan sesuai ketentuan teknis, memperhatikan aspek keselamatan pengguna jalan, serta meminimalkan dampak sosial dan lingkungan yang ditimbulkan oleh proyek nasional tersebut.

Sekretaris Komisi C , H. Koeswanto, S.I.P.,  Komisi C DPRD DIY, H. Koeswanto, S.I.P., menyampaikan bahwa kunjungan ini merupakan bentuk tanggung jawab DPRD DIY sebagai wakil masyarakat, khususnya warga yang terdampak langsung pembangunan JJLS Kretek–Girijati.

“Kami ini mewakili masyarakat. Pembangunan Kretek–Girijati tentu membawa dampak, salah satunya yang sebelumnya dirasakan oleh warga di dusun bawah terkait lumpur. Karena itu kami turun langsung untuk melihat dampak terhadap masyarakat serta memastikan pembangunan ini sesuai ketentuan, mulai dari kondisi lapangan hingga ketebalan aspal dan aspek teknis lainnya,” ujarnya.

Senada dengan itu, Anggota Komisi C, Dr. Aslam Ridlo, M.A.P., menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan infrastruktur dan daya dukung lingkungan. Menurutnya, meskipun proyek JJLS menggunakan anggaran APBN sekitar Rp340 miliar, dampaknya terhadap masyarakat DIY sangat signifikan.

“Pembangunan ini membelah tebing sehingga tentu ada konsekuensi terhadap daya dukung lingkungan. Oleh karena itu, keamanan dan keselamatan pemanfaatan jalan harus benar-benar menjadi prioritas,” jelasnya.

Dr. Aslam menambahkan bahwa pemerintah daerah perlu menyiapkan langkah-langkah simultan untuk mengantisipasi potensi penurunan daya dukung lingkungan saat JJLS mulai difungsikan. Ia juga berharap keberadaan JJLS, khususnya di titik Kelok 23 dan Jembatan Pandansimo, mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui peningkatan aksesibilitas dan sektor pariwisata di wilayah Bantul dan Gunungkidul.

Sementara itu, Koordinator Lapangan PUPR, Keswandi, menjelaskan bahwa progres pembangunan JJLS ruas Kretek–Girijati saat ini telah mencapai 89,317 persen. Sisa pekerjaan sekitar 11 persen meliputi pembangunan jembatan, pekerjaan bore pile, serta pengaspalan.

“Harapannya pada Juli 2026 jalan ini sudah bisa open traffic. Kendala utama saat ini adalah pemesanan girder jembatan dari Surabaya. Jika girder dapat segera datang, maka Juli sudah bisa dibuka, namun jika terlambat kemungkinan penyelesaian hingga Agustus 2026,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa pembangunan JJLS di wilayah Kabupaten Bantul pada prinsipnya telah selesai 100 persen, sementara di wilayah Gunungkidul masih tersisa sekitar 1,9 kilometer. Jembatan yang dibangun memiliki panjang 40 meter dan diharapkan dapat mendorong masuknya investasi, khususnya di sektor pariwisata.

Komisi C DPRD DIY menegaskan bahwa hingga saat ini ruas JJLS Kretek–Girijati belum dapat difungsikan untuk lalu lintas umum, kecuali dalam kondisi darurat. Melalui kegiatan monitoring ini, DPRD DIY berharap pembangunan JJLS tidak hanya selesai secara fisik, tetapi juga memberikan manfaat yang optimal, aman, dan berkelanjutan bagi masyarakat, dengan tetap menjaga keseimbangan lingkungan. (ard/lz)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*