Perempuan Miliki Peran Penting Tumbuhkan Pancasila dalam Keluarga

Jogja, dprd-diy.go.id – DPRD DIY mengadakan sarasehan pada Jumat (15/11/2019) dengan tema ‘perempuan dalam menggelorakan Pancasila’. Yuni Satya Rahayu mengatakan bahwa tema ini diambil karena DPRD DIY ingin menyampaikan kepada masyarakat tentang pentingnya Pancasila.

“Dan pada kesempatan yang baik ini terutama untuk perempuan yang mendengar dari pertemuan ini bisa menyampaikan kepada keluarga karena itu adalah tempat paling dekat dengan kita,” jelas Yuni menyampaikan harapannya kepada kaum perempuan.

Menurutnya beberapa persoalan terkait keberagaman menjadi salah satu polemik yang marak di DIY. Salah satunya yaitu masalah yang berada di Desa Mangir Bantul yang sudah melakukan ritual kejawen yang kini tidak dapat dilakukan kembali.

“Di Sleman sering kita temui perumahan untuk agama tertentu, kos-kosan untuk agama tertentu, dan lain-lain. Ini sangat memukul perasaan keberagaman yang selama ini bisa muncul, bisa kita banggakan sebagai miniaturnya Indonesia, ternyata itu tidak terjadi lagi dalam beberapa tahun ini,” lanjutnya.

Sebagai salah satu narasumber pada pertemuan ini, Yudian Wahyudi Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga menjelaskan bagaimana seharusnya Pancasila dipahami. Menurut Yudian warga Indonesia seharusnya memperhatikan kembali masalah hubungan Pancasila dan agama.

“Kita harus mengubah statement atau slogan Pancasila itu religius dan sekularistis, bukan religiusisme dan sekulerisme. Pancasila religius dilihat dari sumber dan tujuannya. Lima sila Pancasila ada di dalam kitab suci enam agama. Cara mewujudkannya butuh sekularitas, bukan sekulerisme,” tegas Yudian.

Yudian menyampaikan bahwa konstitusi berada di atas kitab suci dalam rangka bernegara dan berbangsa. “Dalam bernegara dan berbangsa kita harus sadar, ternyata yang di atas bukan kitab suci kita, tetapi konsensus hasil pembahasan kitab suci masing-masing yang menjadi kesepakatan. Jangan pernah benturkan agama dengan pancasila.”

Sementara itu narasumber lainnya, Rona Utami dari Pusat Studi Pancasila UGM mengatakan perempuan memiliki peran strategis dalam menggelorakan Pancasila. Hal ini di dalam masing-masing sila Pancasila.

“Sila pertama kerukunan antar umat beragama. Sila kemanusiaan bagaimana kita harus menghormati sesama manusia baik itu berbeda jenis kelamin maupun berbeda orientasi. Di dalam keluarga harus menganut paham toleransi. Perbedaan yang menyatukan masyarakat Indonesia, bukan persamaan. Sila kelima pancasila merupakan tujuan dari bangsa Indonesia,” tuturnya.

Rona mengajak para mahasiswa untuk menanamkan Pancasila sejak, sebab mahasiswa merupakan agen perubahan. Menurutnya saat ini adalah era disrupsi dan era kosntruksi dimana kita sampai saat ini membedakan informasi yang benar amat sulit.

Fungsi perempuan dalam menanggulangi atau mencegah permasalahan penyebaran berita hoax sangat penting. Dalam lingkungan keluarga, perempuan mempunyai peran penting untuk mengajarkan ke anak-anak tentang toleransi dan hate speech yang tidak boleh dilakukan.

“Teknologi informasi memberikan dampak positif untuk para perempuan. Perempuan diberdayakan melalui teknologi. Tetapi kita juga harus memilah mana berita yang valid dan yang tidak valid,” ungkapnya.

Rona mengingatkan bahwa diperlukan peran perempuan dalam membimbing dan mendampingi anak dalam mengakses internet. Perempuan harus ‘melek’ teknologi agar mengetahui sisi positifnya untuk diri sendiri yang akan dibawa ke keluarga untuk dibagikan ke anak-anak. (fda/mei)

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*