Sleman, dprd-diy.go.id – Embung Kaliaji di Kalurahan Donokerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis masyarakat. Potensi tersebut menjadi perhatian Komisi B DPRD DIY yang melakukan Kunjungan Kerja Dalam Daerah (KDD) guna melihat langsung perkembangan desa wisata sekaligus menyerap aspirasi pengelola dan pemerintah kalurahan, Rabu (11/3/2026).
Kegiatan tersebut turut melibatkan perwakilan Dinas Pariwisata DIY, Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Dinas Koperasi dan UMKM, serta pengelola Desa Wisata Embung Kaliaji dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat.
Lurah Donokerto, R. Waluyo Jati, S.T., menjelaskan bahwa Embung Kaliaji merupakan destinasi wisata yang dibangun melalui pemanfaatan tanah kas desa dan dikelola secara kolaboratif oleh masyarakat. Keberadaan desa wisata ini tidak hanya memberikan kontribusi terhadap pendapatan desa, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi warga sekitar.
Menurutnya, masyarakat sejak awal berkomitmen mengembangkan desa wisata secara mandiri. Ke depan, pengembangan kawasan wisata masih membutuhkan dukungan, terutama untuk mewujudkan rencana fasilitas seperti glamping dan camping ground yang diharapkan mampu meningkatkan daya tarik kunjungan wisata.
“Sejak dibangunnya Embung Kaliaji, masyarakat berkomitmen bersama membangun desa wisata. Kami berharap kunjungan ini dapat memberikan solusi dan dukungan program agar rencana pengembangan seperti glamping dan camping ground dapat terwujud dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat,” ujar Waluyo.
Dalam diskusi bersama pengelola wisata dan Pokdarwis, juga disampaikan kebutuhan penguatan fasilitas pendukung seperti pendopo budaya sebagai ruang ekspresi seni masyarakat, penguatan event kebudayaan, serta peningkatan promosi destinasi wisata. Desa Wisata Widuri yang berkembang sejak 2016 juga terus menghadirkan kegiatan wisata berbasis budaya dan pemberdayaan masyarakat melalui aktivitas outbound, kemah, serta pertunjukan seni tradisional.
“Kami berharap adanya pembangunan joglo atau gedung pertemuan yang dapat menjadi pusat aktivitas desa wisata sekaligus memperkuat kolaborasi antar pelaku wisata di Donokerto,” ungkap salah satu perwakilan Pokdarwis.
Anggota Komisi B DPRD DIY, Yan Kurnia Kustanto, S.E., menekankan bahwa pengembangan desa wisata perlu tetap dilakukan meskipun di tengah kondisi efisiensi anggaran. Menurutnya, penguatan fasilitas dasar, peningkatan kapasitas sumber daya manusia pramuwisata, serta strategi promosi yang terarah menjadi kunci agar desa wisata mampu berkembang dan memberikan pengalaman wisata yang optimal bagi pengunjung.
“Di tengah efisiensi anggaran, kita tidak boleh berhenti bergerak. Penguatan fasilitas, peningkatan kapasitas SDM pramuwisata, serta strategi promosi menjadi kunci agar desa wisata mampu berkembang dan memberikan pelayanan optimal kepada wisatawan,” jelasnya.
Sementara itu, Anggota Komisi B DPRD DIY, Reda Refitra Safitrianto, menilai sinergi kelembagaan di tingkat desa juga penting dalam pengelolaan desa wisata. Ia menyebutkan Pokdarwis dapat fokus pada pengembangan konsep wisata, sementara penguatan pengelolaan ekonomi dapat dilakukan melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Menutup kegiatan, Wakil Ketua Komisi B DPRD DIY, Dr. Danang Wahyu Broto, S.E., M.Si., menyampaikan bahwa potensi wisata Donokerto dinilai sangat baik untuk terus dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis masyarakat. Hasil kunjungan lapangan tersebut akan menjadi bahan pembahasan di DPRD DIY guna mendorong penguatan sektor pariwisata daerah.
“Potensi Donokerto sangat baik. Meski di tengah keterbatasan anggaran, hasil diskusi ini akan kami bawa sebagai bahan pembahasan di DPRD DIY agar pengembangan pariwisata tetap berjalan melalui sinergi bersama,” ujarnya. (alf/dta)

Leave a Reply