Rapat Perdana Pansus BA Nomor 24 Tahun 2022 Bahas Perubahan-Perubahan Perdais DIY No 1 Tahun 2018

Jogja, dprd-diy.go.id – Rabu (10/08/2022), DPRD DIY menyelenggarakan rapat kerja dengan pembahasan terkait pemaparan perubahan Peraturan Daerah Istimewa (Perdais) DIY nomor 1 tahun 2018 dan dipimpin oleh Andriana Wulandari selaku pimpinan Pansus BA Nomor 24 Tahun 2022. Rapat Kerja dihadiri oleh segenap OPD terkait dan bertempat di Ruang Lobby lt 1 gedung DPRD DIY.

Pemaparan berisikan perubahan-perubahan Perdais DIY nomor 1 tahun 2018 mengenai kelembagaan pemerintah daerah DIY tentang penyesuaian Rencana penyesuaian nomenklatur DPPM menjadi Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), perubahan dan penguatan kelembagaan rumah sakit daerah, dan Paniradya Keistimewaan.

Berkaitan dengan perubahan dan penguatan kelembagaan rumah sakit daerah, disampaikan bahwa terdapat rencana perubahan kelas dari Rumah Sakit Daerah. Yaitu pada Rumah Sakit Respira dan Rumah Sakit Grhasia.

Wakil ketua Pansus BA no 24, Sadar Narima sepakat dan setuju dengan adanya penguatan kelembagaan rumah sakit daerah. Namun, beliau menyatakan bahwa masih perlu adanya masukan dari banyak pihak terutama berkaitan dengan wewenang atau otonomi khusus yang akan didapatkan oleh rumah sakit daerah dalam pengembangan kedepannya.

“Selaku wakil rakyat dan penduduk DIY, akan sangat bangga apabila rumah sakit kita ini memiliki otonomi, kedudukan yang kuat, dan rencana inovasi yang kuat untuk pengembangan kedepan,” ujar Sadar.

Menanggapi hal tersebut, Ahmad Akhadi selaku direktur Rumah Sakit Grhasia mengungkapkan bahwa pihaknya menginginkan Rumah Sakit Jiwa Grhasia menjadi salah satu entitas keistimewaan di Yogyakarta dengan mengembangkan pelayanan non-kekhususan/umum.  penambahan wakil direktur pun ditujukan dalam rangka bertambahnya urusan-urusan dalam rumah sakit dari adanya pengembangan pelayanan.

Sementara mengenai Rumah Sakit Respira, diungkapkan bahwa kenaikan kelas pada Rumah Sakit Respira sangat diusahakan agar dapat diberikan akses pada BPJS. Peningkatan fasilitas dan sarana pun diperlukan mengingat banyaknya kasus TBC di DIY. Apabila disetujui adanya kenaikan kelas, Rumah Sakit Respira dapat dijadikan rujukan untuk menampung pasien yang terkena TBC. 

Selanjutnya, sehubungan dengan restrukturisasi Paniradya Keistimewaan, akan dilakukan peningkatan menjadi 1 sekretariat dan maksimal 4 bidang. Sebab, menurut hasil dari evaluasi kebutuhan, diperlukan adanya penambahan sekretaris untuk memperkuat bidang kesekretariatan. Pihak Paniradya Keistimewaan menilai bahwa 3 bidang kurang efektif, sehingga dilakukan pemecahan menjadi 4 bidang.

Terkait Paniradya Keistimewaan, Andriana menyarankan bahwa kata “maksimal” atau pembatasan terhadap 4 bidang tersebut sebaiknya tidak digunakan. Hal ini dikarenakan 4 bidang tersebut tidak bersifat mutlak dan masih dapat ditambah untuk kedepannya.

“Dengan adanya perkembangan zaman, nanti kebutuhan akan lebih banyak lagi. Saya yakin kedepannya DIY akan lebih luar biasa dengan penataan kelembagaan-kelembagaan yang ada,” ungkapnya.

Di akhir rapat kerja,  Andriana berharap penyempurnaan kelembagaan DIY ini dapat dijalankan dengan lebih baik lagi kedepannya sehingga Pemda DIY dapat menjalankan pemerintahan melalui kelembagaan yang dibutuhkan dan menjadi lebih efektif dalam melayani masyarakat.(Zn)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*