Jogja, dprd-diy.go.id – Taru Martani memiliki sejarah yang panjang sebagai perusahaan yang memproduksi berbagai macam rokok sejak jaman Belanda, Jepang, hingga jaman kemerdekaan bahkan tetap berdiri beroperasi hingga saat ini.
Saat ini Taru Martani memproduksi 14 jenis cerutu yang sudah dikenal diseluruh dunia, yaitu Cigarillos/Treasure, Extra Cigarillos, Senoritas, Panatella, Slim Panatella, Half Corona, Corona, Super Corona / Grand Corona, Boheme, Royal, Perfecto, Rothschild, dan Churchill.
Empat belas jenis cerutu produksi Taru Martani saat ini telah menjadi komoditi ekspor yang cukup menjanjikan. Pasarannya merambah negara Belanda, Belgia, Jerman, Cekoslovakia, Amerika, Asia, Eropa Timur, Eropa Barat dan ASEAN.
Sebagai bahan baku pembuatan cerutu, Taru Martani mendatangkan tembakau dari daerah Besuki, Jember, Kediri, Sumatera, dan Klaten. Tembakau yang memiliki rasa cukup menonjol dengan warna coklat kehitaman. Taru Martani juga mengimpor tembakau dari Brasil dan Havana untuk bahan pengisi.
Salah satu keunikan pembuatan cerutu Taru Martani adalah karena semua proses pembuatannya dilakukan secara manual dengan tangan. Sehingga dapat dikatakan setiap batang cerutu dibuat dengan ketelitian tinggi dan menjadi hasil karya cerutu yang baik.
Dikutip dari akun media sosial Humas Jogja, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X berharap PD Tarumartani dapat melakukan diversifikasi produk untuk meningkatkan penjualan.
“Karena relatif pemasaran cerutu sudah lebih bagus dari beberapa tahun lalu dan sudah bisa mengeluarkan branding sendiri sehingga marketnya lebih besar. Saya berharap ada diversifikasi produk. Program-program lain di sektor pertanian dapat dilakukan,” ucap Sri Sultan, Selasa (14/06/2022) siang.
Sri Sultan menyampaikan bahwa diversifikasi juga menjadi langkah bagi salah satu BUMD milik DIY itu untuk meningkatkan ekspor.
Dr. R. Stevanus C. Handoko S.Kom., MM, Anggota DPRD DIY dari Partai Solidaritas Indonesia yang juga penggemar cerutu menyampaikan pendapatnya terkait dengan potensi cerutu asli DIY bahwa perkembangan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi saat ini perlu juga diadaptasi dalam strategi pemasaran produk cerutu yang diproduksi oleh Taru Martani.
“Perlu inovasi dan strategi yang lebih progresif untuk lebih memperkenalkan cerutu Taru Martani”, tambah Dr. R. Stevanus
“Dengan kondisi globalisasi yang erat dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi saat ini perlu juga pihak Taru Martani untuk memanfaatkannya. Agar lebih banyak orang yang mengetahui bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki produk cerutu unggulan yang memiliki kekhasan dan keistimewaan rasa dengan harga yang kompetitif,” ujar Dr. R. Stevanus.
Sebagai perusahaan BUMD, Dr. R. Stevanus juga menyampaikan agar perusahaan ini bisa seperti arti namanya yaitu daun yang menghidupi. Perusahaan ini mampu menghidupi dan menghasilkan profit yang lebih signifikan agar bermanfaat bagi seluruh warga DIY.
Dr. R. Stevanus juga menyampaikan bahwa tren cerutu dunia terus meningkat signifikan. Spanyol, AS, Tiongkok dan negara lain menjadi pasar cerutu dunia yang terus berkembang. Sebagai salah satu penghasil tembakau terbesar di dunia. Indonesia sudah seharusnya bisa juga menjadi salah satu produsen cerutu terbaik di dunia.
Taru Martani sebagai perusahaan BUMD yang sudah berusia lebih dari 104 tahun seharusnya bisa juga memanfaatkan momentum seperti ini untuk dapat meningkatkan jumlah ekspor cerutu di pasar international, termasuk juga meningkatkan pasar cerutu dalam negeri.
Bonus demografi dengan kelas menengah yang terus berkembang menurut Dr. R. Stevanus bisa menjadi potensi pasar yang baik di Indonesia. Gaya hidup yang bergeser di kelas menengah berpotensi untuk dikenalkan produk cerutu asli dari Indonesia seperti brand cerutu yang dimiliki Taru Martani.
“Semoga di tahun-tahun ke depan, brand cerutu dari Jogja bisa sejajar dengan brand-brand kelas dunia seperti Gurkha Black Dragon, Cohiba Behike, Arturo Fuente Opus X BBMF, Louixs,” tambah Dr. R. Stevanus. (*)


Leave a Reply