YOGYAKARTA – Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Daerah Istimewa Yogyakarta terus didorong melalui pendekatan strategis berbasis pangan lokal. Anggota DPRD DIY dari PSI, Dr. Raden Stevanus Christian Handoko, wujudkan aspirasi masyarakat melalui program Alih Teknologi Informasi (ATI) pengolahan ikan dengan kampanye Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) sebagai langkah konkret menekan angka stunting sekaligus meningkatkan konsumsi ikan masyarakat.
Program ATI dan Kampanye Gemarikan yang digelar sejak Februari 2026 dan akan terus berlanjut akan menjangkau 14 kemantren di Kota Yogyakarta. Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi bersama Dinas Kelautan dan Perikanan DIY serta melibatkan akademisi, dokter, ahli gizi, pemerhati dan peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional DIY.
Sasaran utama program ini adalah masyarakat umum, ibu-ibu PKK, kader Posyandu, karang taruna, hingga remaja putri yang berperan penting dalam menentukan pola konsumsi keluarga.
Dr. Raden Stevanus menegaskan bahwa persoalan stunting tidak bisa dilihat dari satu dimensi saja.
“Stunting bukan hanya soal kemiskinan, tetapi juga berkaitan erat dengan literasi gizi masyarakat yang masih perlu ditingkatkan,” ujar Dr. Raden Stevanus
Menurutnya, pemanfaatan ikan sebagai sumber protein hewani berkualitas tinggi masih belum optimal, terutama karena minimnya pengetahuan masyarakat terkait pengolahan.
“Melalui program ATI ini, kami ingin mentransfer pengetahuan pengolahan makanan berbahan dasar ikan secara sederhana namun efektif agar ikan tidak lagi dianggap sebagai bahan pangan yang sulit diolah atau berbau amis,” jelas Dr. Raden Stevanus.
Ia menekankan pentingnya inovasi dalam penyajian, khususnya untuk anak-anak pada fase krusial 1000 Hari Pertama Kehidupan.
“Ikan yang kaya Omega-3 harus bisa dihadirkan dalam bentuk yang disukai anak, sehingga konsumsi protein berkualitas dapat meningkat secara signifikan,” kata Dr. Raden Stevanus.
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya teknik pengolahan yang tepat untuk menjaga kandungan gizi ikan.
“Kita mengedukasi masyarakat agar memahami metode memasak yang tepat agar kandungan nutrisi tidak rusak,” ungkapnya.
Diversifikasi produk juga menjadi kunci agar ikan semakin diterima oleh masyarakat luas.
“Produk turunan seperti dimsum, kaki naga, nugget sehat, hingga olahan modern tanpa bahan pengawet menjadi solusi agar ikan lebih mudah diterima pasar,” tambah Dr. Raden Stevanus.
Tak berhenti pada aspek kesehatan, program ini juga diarahkan untuk memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.
“Pelatihan ini bukan sekadar edukasi, tetapi juga investasi jangka panjang untuk menciptakan wirausaha baru di sektor pangan sehat,” tegasnya.
“Saya ingin muncul ‘local heroes’ di setiap kemantren. Ketika ibu-ibu mampu memproduksi dan memasarkan olahan ikan secara digital, kita tidak hanya menekan angka stunting, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal,” ujar Dr. Raden Stevanus.
Sejalan dengan program ATI, Dr. Raden Stevanus juga memasifkan kampanye Gemarikan sebagai bagian dari strategi peningkatan konsumsi ikan di DIY. Langkah ini dinilai sejalan dengan arah kebijakan nasional sektor kelautan dan perikanan yang menjadikan konsumsi ikan sebagai indikator penting pembangunan SDM.
“Angka konsumsi ikan kita di DIY harus terus ditingkatkan. Ikan adalah solusi kedaulatan pangan yang paling terjangkau bagi masyarakat Yogyakarta,” tegasnya.
Ia menambahkan, potensi perikanan baik dari laut maupun perairan darat harus dimanfaatkan secara optimal.
“Kita tidak perlu bergantung pada daging impor jika kita bisa mengoptimalkan kekayaan laut dan perikanan darat kita sendiri sebagai sumber protein utama,” lanjut Dr. Raden Stevanus.
Dari perspektif kesehatan, konsumsi ikan memiliki dampak signifikan terhadap perkembangan anak.
“Konsumsi ikan tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan gizi, tetapi juga berdampak langsung pada perkembangan kognitif anak. Kandungan omega-3, protein tinggi, serta mikronutrien dalam ikan menjadi faktor penting dalam mendukung kecerdasan dan daya tahan tubuh,” ungkap Dr. Raden Stevanus.
Perhatian khusus juga diberikan kepada remaja putri sebagai agen perubahan jangka panjang.
“Remaja putri hari ini adalah ibu dari generasi masa depan. Memberikan pemahaman kepada mereka tentang pentingnya protein ikan adalah investasi jangka panjang,” ujarnya.
“Kita ingin memastikan tidak ada lagi kasus anak lahir dengan indikasi stunting di masa mendatang,” tambahnya.
Dalam era digital, ia juga menilai strategi komunikasi harus beradaptasi agar pesan gizi lebih efektif menjangkau generasi muda.
“Informasi mengenai manfaat ikan kembung yang setara dengan salmon, atau ikan lele yang kaya nutrisi, harus menjadi pembicaraan populer di media sosial, Kita ingin membangun budaya makan ikan yang modern dan kekinian, Dengan penguatan literasi gizi dan dukungan teknologi digital, kita optimistis perubahan perilaku konsumsi masyarakat dapat terjadi secara signifikan”, ujar Dr. Raden Stevanus.
“Jika literasi ini kuat, saya optimis tingkat konsumsi ikan kita akan melonjak di atas rata-rata nasional, dan Yogyakarta akan mencetak generasi yang lebih cerdas dan kompetitif secara global,” pungkas Dr. Raden Stevanus.
Sinergi antara inovasi pengolahan pangan, edukasi gizi, dan kampanye konsumsi ikan ini menjadi model pendekatan komprehensif dalam menjawab tantangan usaha peningkataan angka makan ikan, stunting sekaligus membangun fondasi SDM unggul berbasis potensi lokal yang berkelanjutan.

Leave a Reply